#header img { max-width: 99%; max-height:90%; margin:1px 1px;padding:0px;} .post img { vertical-align:bottom; max-width:90%; max-height:90% } #navigation img { vertical-align:bottom; max-width:80%; }

Kamis, 27 Februari 2014

Kubah di Tanah Istana Kalegowa

Kubah di Tanah Istana Kalegowa



13448608041002176735
Sumber: Penjaga makam, Daeng Liong, tampak sedang berdoa depan makam Syekh Yusuf. (sumber foto: majalahversi.com)
Kebanyakan orang menyebut makam “Syekh Jusuf Tuanta Salamaka ri Gowa” sebagai Ko’bang. Namun, beda  bagi warga yang bermukim disekitar situs Makam. Menurut mereka, jika berada di Ko’bang berarti  sedang mengunjungi Lakiung, dimana kuburan Syekh Yusuf dan para raja-raja Gowa bersemayam.
Sejatinya, penyebutan  Ko’bang , adalah untuk mengartikan bentuk kubah makam di sana, yang terlanjur dilapazkan sebagaiKo’bang lidah orang Makassar, Bugis serta suku-suku Sulawesi Selatan.
Juru kunci Makam, Haji Muhammad Yusuf Daeng Liong, menjelaskan,  Ko’bang itu berpangkal kata dari  Kubah, namun kekhasan lidah suku Makassar dan sekitarnya terlanjur menyebut Ko’bang . Sampai sekarang, penamaaan itu melekat serta mengisi perbendaharaan kata suku Makassar. “Karena lidah kita tidak mampu menyebutnya, “ Jelasnya saat ditemui pada kamis, (1/5/2009) lalu.
Diatas tanah itu, juga disebut-sebut sebagai Karamaka atau Keramat, sebagai tempat yang dikeramatkan seperti pada kuburannya yang berada di Cope Town, Afrika Selatan.
***
“Buka jam 07-15” begitulah sebuah maklumat yang dipajang di sebelah kiri pada dinding pintu utama makam Syekh Jusuf. Dengan ukuran 50 centimeter persegi ini hampir saja tidak nampak karena dilumuri cat warna putih.
Pada jam-jam itulah para peziarah berbondong-bondong masuk. Tidak tanggung-tanggung, mereka datang secara massal bersama keluarga, kerabat atau tetangga, dengan mobil pribadi atau menyewa angkutan kota atau angkutan antar Daerah.
Menurut warga setempat yang rata-rata penjual bunga, warga “orang atas” (untuk menyebut masyarakat berasal dari daerah kabupeten Gowa, Takalar, Jeneponto, Bantaeng, Bulukumba)  sering berkunjung disini dan beberapa warga dari kabupaten Bone, Maros, Palopo, dan daerah lainnya Sulsel. Warga kota Makassar yang jarang berziarah.
Letak kompleks makam kharismatik Syekh Jusuf atau Ko’bang ini berada ditengah kepadatan pemukiman warga Makassar dan Gowa. Tepatnya di jalan Syekh Yusuf, sekitar 500 meter dari gerbang perbatasan kabupaten Gowa-Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Jalan ini pula sebagai petanda perbatasan dua daerah ini.
Kompleks situs ini berada dalam wilayah administrasi Kabupaten Makassar, namun dua pemerintahan ini sepakat jika makam Syekh Yusuf sebagai bagian dari wilayah kabupaten Gowa. Jadi hanya kompleks situs ini saja yang berada di Kabupaten Gowa tepatnya di Kelurahan Katangka, Kecamatan Somba Opu.
Sedangkan pemukiman yang berada di samping kiri, kanan dan belakang makam masuk wilayah kota Makassar. Kompleks ini terapit oleh dua perumahan besar, Permata Hijau Indah berada disebelah timur dan Griya Fajar Mas dibelakang kompleks atau bagian Utara.
Selain ko’bang, didalam kompleks juga berdiri masjid, perpustakaan dan kuburan raja Gowa, para kerabat dan pembesar kerajaan Gowa yang sudah tidak dikenal atau tidak memiliki nama dan  sebagai pekuburan umum sehingga terdapat ratusan kuburan warga. Masjid dengan nama Syekh Yusuf ini dibagun pada tahun 1955.
Arsituktur bangunan ini sarat dengan simbol Islam, terutama penjelmaan bentuk kubah masjid. Baruga pintu utama situs makam yang ada sekarang ini, tidak jauh dari bentuk aslinya setelah mengalami dua kali pemugaran. Namun jika anda memperhatikan tekstur Baruga yang tingginya sekitar 6,5 meter ini, sangat dipengaruhi oleh bangunan keraton jawa.
Pemugaran pertama dilakukan pada masa H. Ibrahim Daeng Pabe, juru kunci yang berasal dari generasi ke-8 keturunan Syeikh Yusuf, seabad kematian beliau. Disini bangunan kubah dibobol untuk dibuatkan jendela. Terdapat dua jendela, sebelah timur dan barat yang mengatur suhu udara makam.
Sedangkan pada masa Muhammad Yunus Daeng Liong, juru kunci sekarang ini. Pemugaran dilakukan oleh Syahrul Yasin Limpo, sewaktu menjabat Bupati Gowa, pada tanggal 16 April 1998. Pemugaran dilakukan pada pagar, pemberian atap koridor yang akan menghubungkan beberapa tempat dan perpustakaan.
Di bilangan Lakiung ini, terdapat beberapa Ko’bang yang dijadikan obyek wisata oleh pemerintah setempat; makam Raja-raja Gowa di kompleks Masjid Katangka, makam Arung Palakka, dan makam di kompleks raja Sultan Hasanuddin.
Di kompleks ini terdapat empat kubah dan Makam Syekh Yusuf yang paling besar. Namun, kata Daeng Liong, tidak ada keistimewaan dari besar kecilnya sebuah kubah makam. Ukurannya tergantung berapa jenazah yang disemayamkan didalamnya.
Makam Syekh Yusuf memiliki ukuran sembilan meter persegi. Diisi oleh kuburan Syekh Yusuf beserta Isteri, Raja ke-19 Gowa Sultan Abd. Djalil, dan beberpa petinggi kerajaan Gowa dan kerabatnya yang berjumlah 11 kuburan.
Sedangkan tiga kubah lainnya, lebih kecil. Ko’bang tersebut merupakan pengikut beliau dari Afrika Selatan yang ukurannya sekitar lima meter persegi dan masing-masing terisi dua buah makam. Namun bentuk Kubah tersebut merupakan penjelmaan dari kebesaran orang yang disemayamkan didalamnya. Syekh Yusuf berasal dari keturunan raja Gowa, konon pemberian nama itu berasal dari Raja Gowa Sultan Alauddin.
Jika anda memperhatikan atap makam Syekh Yusuf, terdapat guci yang berwarna abu-abu. Keberadaan guci ini sebagai simbol kebesaran Tuanta Salamaka ri Gowa. Guci inilah pertanda sebagai bangsawan besar. “Ibarat sebuah cincin, guci itu adalah permatanya,” Ungkap orang yang diberi kedaulatan memegang kunci makam ini.
Tetapi simbol kebesaran dari guci yang menghiasi kubah sekarang ini merupakan imitasi. Guci aslinya telah digasak pada tahun 1967. “Guci itu dicuri ditahun 1967. Bersamaan beberapa arca-arca peninggalan situs candi di jawa juga hilang, “ Sambung penjaga makam yang telah mengabdi selama 40 tahun ini.
Jika melihat letak antara Kompleks Makam Syekh Yusuf, makam raja-raja Gowa dalam kompleks Mesjid Tua Katangka dan Makam Raja Sultan Hasanuddin dan pembesar lainnya, jaraknya tidak terlalu jauh dan posisi letaknya juga diduga tidak lepas dari keadaan geografis jaman kerajaan Gowa melawan panjajah VOC. Sebagai bekas bekas Istana Tamalate dan benteng pertahanan Kalegowa.
Menurut Liong, kompleks makam Raja Sultan Hasanuddin merupakan bekas istana Tamalate, sedangkan kerangka jenazah Syech Yusuf Tuanta Salamaka ri Gowa dikebumikan di tanah bekas benteng Kalegowa. Semasa hidupnya, kharisma Syekh Yusuf begitu besar, terutama pada masyarakat yang pernah disinggahinya; Banten, Madura, Pelambang, Srilangka, dan Afrika Selatan. Setelah kematiannya, muncul pengklaiman bahwa makam-makam beliau juga terdapat dibeberapa tempat yang hingga kini masih tetap diziarahi.
Makam Syekh Yusuf Tuanta Salamaka ini merupakan satu dari enam versi makamnya yang dianggap ada. Di Indonesia terdapat di Banten, Madura dan Palembang. Sedangkan diluar negeri berada di Afrika Selatan dan Srilangka.
Menurut  Liong, lima tahun kematian Syekh Yusuf di kebumikan di Cope Town, Afrika Selatan, barulah pihak belanda mengizinkan pihak kerajaan gowa membawa jazad Syekh Yusuf. Itu pun setelah menyelesaikan beberapa persyaratan; membayar upeti. “Karena sudah lima tahun, jadi yang dibawa ke sini adalalah kerangkanya, “ Ungkapnya.
Atas perintah raja Gowa ke-19. Sultan Abd. Djalil, kerangka mayat Syekh Yusuf diambil paksa dengan 300 kapal perang kerajaan Makassar (kerajaan Gowa-Tallo) dan menyita waktu sampai tiga bulan sampai dikampung halamannya, Gowa. Sedangkan ditempat lain, kata H. Liong hanya Sorban dan tasbih Tuanta Salamaka ri Gowa. (A).
Minya’ bau’ ri Ko’bang, Nazar di Karamaka
“Bunga, Pak. Bunga, Pak “ Sodor penjual bunga kepada para pengunjung yang harganya mulai Rp 15 ribu. Harga bunga disini cukup beragam, tergantung kesanggupan dan penawaran peziarah, alisa boleh ditawar.
Pedagang bunga-kembang sesajian ini cukup banyak menawarkan di depan situs pemakaman yang juga sering disebut Karamaka atau Ko’bang ini. Mereka kadang berebutan pelanggan atau peziarah dapat membelinya di toko-toko sepanjang tepi jalan ini, terutama depan Makam.
Di toko-toko tersebut, tidak hanya menawarkan bunga sesajian, tetapi dapat menyediakan hal-hal yang berkaitan dengan nazar jika terkabul; seperti ayam, kambing, kerbau, sapi, songkolo (beras ketan) dan lain-lain yang mereka sanggupi.
Uniknya, dari sesajian ini, para pedangan  telah mengepaknya dalam sebuah wadah dari potongan kaleng plastik bekas cat atau kaleng biskuit Denish Monde, Arnott dan lain-lain. Lalu dibungkusnya dengan kain putih.
Dalam wadah ini terdapat segenggam kuntum kembang bunga, daun pandan, lilin merah kecil, kemenyan dan sebungkus atau sebotol minyak yang oleh mereka sebut minya’ bau. “karena minyaknya harum,” jelas Sapri, yang sehari-harinya menjual bunga dikawasan itu.
“Minya’ bau” atau minyak harum ini sebagai media ritual disini, digunakan dengan menyiram tugu-tugu nisan yang akan diziarahi.
Sapri, salah satu penjual bunga, mejelaskan, minyak yang berwarna merah ini berasal dari beberapa bunga dan kembang sehingga menghasilkan aromanya harum dan diracik oleh para penjual sendiri. “minyak bau ini diracik oleh mereka sendiri, “ ungkapnya.
Selepas pintu utama yang tingginya sekitar 2,5 meter ini, Anda akan ditangkap suasana riuh rendah tukang peminta-minta yang mayoritas anak-anak dan penjual bunga disepanjang koridor halaman makam, maka siapkan uang seribuan sebelum berziarah.
Koridor-koridor ini menghubungkan masjid, pintu keluar dan masjid dan hanya koridor utama yang bertegel. Para peziarah hilir mudik melintasi koridor ini tanpa menggunakan alas kaki, sepertinya tanpa diberi tahu mereka telah paham tata cara ziarah disini.
Koridor utama bertegel warna pink hingga di dalam makam Syekh Yusuf. Pemugaran terakhir dilakukan pada tahun 2006 ini masih menyisakan beberapa tegel lama didepan pintu masuk dan di dalam makam syekh yusuf.
Diatas pintu luar yang berbentuk kubah ini terdapat prasasti berhuruf lontara yang disandingkan dengan huruf Arab Serang berbahasa Makassar dengan sentuhan cat warna emas yang ukurannya satu meter persegi. Sedangkan pintu dalam juga terdapat prasasti versi bahasa Indonesia yang berbunyi:
“Syech Yusuf Tuanta Salamaka Ri Gowa-Tajul Khalawatiah - lahir, di Gowa, Tanggal 3 Juli 1626 - Menunaikan ibadah Haji, tahun 1664 - Diasingkan oleh Belanda dari Banten ke Srilangka, tahun 1693 - Dipindahkan ke Srilangka ke Cope Town Afrika Selatan, tahun 1694 - Wafat di Cope Town, 22 Mei 1699 - Dikebumikan di Laiung-Gowa, 6 April 1705 - Pahlawan Nasional RI, 9 Nopember 1996 (Seharusnya 7 Agustus 1995) - Pahlawan Nasional Afrika Selatan, 27 September 2005”
Suasana ritual dalam makam begitu kental; asap, bau kemenyan dari dupa, dan suara doa dari juru kunci serta kekhusyukan peziarah memohon sesuatu.
Ketika memasuki ruangan yang berukuran sembilan meter persegi ini, cahaya remang menyelimuti 11 kuburan yang berjejer dua baris. Jejeran atas terdapat makam Syekh Yusuf, disebelah atau ujung barat terdapat makam Isterinya, Sitti Daeng Nisang sedangkan timurnya terdapat tiga makam, yakni Raja Gowa ke-19 Abd.Djalil atau Mappadulung Daeng Mattimung (Karaeng Sandrobone Sultan Abd. Djalil Tuminangan Ri Lakiung), Karaeng Panaikang (Istri Raja Gowa ke-19) dan Syekh Abd. Basyir (Tuang Rappang)
Sedangkan di selatan atau dibawahnya, berjejer enam makam, dari kanan ke kiri; Tuang Loeta (dari Bantaeng), Lakiung, Tanri Daeng, Tanri Uleng, Tanri Abang dan Daeng Ritasammeng.
Selain jejeran 11 kuburan, juga terdapat foto makam Syekh Yusuf  di Afrika Selatan yang menghiasi dinding. Kemudian dua piagam; piagam tanda kehormatan bintang Mahaputra Adipradana dan piagam gelar Pahlawan Nasional. Piagam tersebut ditandatangani oleh Soeharto pada tanggal 7 Agustus 1995.
Sedangkan pas diatas makam Syekh Yusuf, dipajang foto beliau bersama Raja ke-25 Gowa, Daeng Manglekung Dg Manyori dan Raja Gowa ke-31. Andi Mangimangi Daeng mantutu. Juga terdapat meja disudut belakang bersama lemari kayu dan berangkas besi penyimpanan benda-benda berharga.
Bangunan kuburan Syekh Yusuf dan istrinya begitu besar dan nampak motif ukirannya lain dibanding yang lainnya yang putih polos dan ukurannya sedikit kecil, 3×1 meter. Kuburan Syekh Yusuf yang berrelief sulur-suluran, daun-daun dan bunga-bungaan dan berukuran 3×125 meter.
Kerangka kelambu dan payung hanya terdapat di makam Syekh Yusuf dan istrinya, Sitti Daeng Nisang, merupakan petanda kebesaran beliau. Di makam Tuanta Salamaka terdapat disebelah kanan dan istrinya disebelah kiri, yang makam berada disebelah barat makam suaminya
Kuburan Tuanta Salamaka nampak tidak di kelambui, sehingga dengan jelas dapat melihat media-media ritual; dua lilin merah menyelah, kemenyan, serta kembang-bunga, irisan daun pandan yang menumpuk di nisan Syekh Yusuf. Begitu pula makam istrinya
Nisan Tuanta Salamaka berbentuk mahkota nampak sudah hitam dan basah lecap oleh lumuran minyak “bau” yang sudah ratusan peziarah yang melumurinya hingga siang ini. “Sudah ratusan orang yang berziarah,” kata Liong
“Apa kanannu?” tanya  Liong kepada salah seorang wanita setengah tua. Pertanyaan  ini kurang lebih mengartikan “apa niatmu”. Lalu juru kunci makam ini pun memanjatkan doa untuk peziarah itu, agar dikabulkan.
Wanita tadi mengeluarkan bunganya yang dibelinya diluar. Menaburkan bunga ditengah makam, menyalakan lilin dan membakar kemenyannya di dupa dan menyiram “minya’ bau’ di nisan Syekh Yusuf. Ia pun berdoa.
Ya begitulah, makam disini dianggap keramat dan banyak dikunjungi peziarah. Tidak sedikit dari peziarah yang dikabulkan niatannya. “Mayoritas peziarah dikabulkan niatannya, “ Ungkapnya.
Peziarah tak hanya datang dari daerah-daerah kabuaten Sulawesi Selatan, tapi juga kalimantan, Jawa, Palu, Manado, bahkan peziarah dari Afrika, Malaysia dan Srilangka. Bahkan para pejabat juga berdatangan “pokoknya berasal dari semua suku, ras, agama dan kebangsaan, “ kata nenek yang memiliki tujuh cucu ini.
Pemegang kunci Makam inilah yang banyak tahu isi nazar-nazar peziarah. Menurutnya, permintaan mereka itu tak lepas dari seputar siklus hidup. Dapat dimulai dari keinginan untuk menikah, dapat jodoh atau hubungan dengan pasangannya dapat dilanjutkan ke jenjang nikah. Pemandangan pasangan nikah, lengkap dengan pakaiannya hampir tiap hari disaksikan disini, “mereka datang melepas nazarnya, ” kata  Liong. Juga menginginkan anak atau keturunan, masalah kesehatan dan niatan agar mendapat perkejaan dan naik jabatan dan lain-lain.
Namun, tak hanya warga biasa yang berziarah disini, para pejabat pun berdatangan. Seperti Jusuf Kalla (JK) saat mencalonkan diri sebagai Wakil Presiden Pemilu 2004 lalu. Tanggal 7 Juli 2004 itu, JK yang berpasangan dengan SBY berkunjung. Kedatangnya saat pasangan ini dipastikan maju ke babak kedua. Saat itu, tidak hanya mengunjungi Syekh Yusuf, tapi juga makam Sultan Hasanuddin, dan makam Aru Palakka.
Momen Pemilihan Umum (Pemilu) Calon Legislatif (Calag) 2009 pun juga dimanfaatkan para Caleg. Seperti Ketua Umum DPP Partai Hanura, Wiranto, juga menyempatkan berziarah ke makam ini saat berkunjung ke Makassar pasca Pemilu Caleg 2009. Sebelumnya dalam lawatan Rakernas III PDIP di Makassar. Ketua Umum DPP PDIP, Megawati Soekarnoputri bersama rombongan, juga menziarahi makam ulama kharismatik ini dan Sultan Hasanuddin.
Sepertinya momen-momen Pemilu ataupun Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada), para pejabat atau calon yang akan bertaruh mengagendakan untuk ziarah di Ko’bang. Pada Pilkada Kota Makassar, 2008 lalu tim spritual Ilham Arief Sirajuddin-Supomo Guntur (IASmo), kata penjaga Makam juga sempat ziarah di makam ini.

Sumber : http://wisata.kompasiana.com/jalan-jalan/2012/08/13/kubah-di-tanah-istana-kalegowa-485561.html

Sejarah Munculnya Haji Bawakaraeng

Sejarah Munculnya Haji Bawakaraeng


Sejak dahulu kala rutinitas ritual haji ke Gunung Bawakaraeng telah ada dalam tradisi masyarakat di Sulawesi Selatan. Tradisi ini telah ada bersamaan dengan dikenalnya persoalan ketuhanan dan agama di Sulawesi Selatan. Namun karena tradisi ini berbeda dengan tradisi haji yang sering dilakukan oleh umat Islam pada umumnya yaitu ke Mekah, maka dalam perjalanannya tradisi ini senantiasa mengalami banyak rintangan. Penganut tradisi haji Bawakaraeng ini terkadang dihujat sebagai musyrik bahkan murtad. Pengikutnya ada yang ditangkap dibawa ke kodim dan dianggap sebagai penganjur tarekat yang menyesatkan. Pada tahun 60-an, tradisi ini dilarang total oleh DI/TII, siapa saja yang kedapatan ke Bawakaraeng dalam rangka acara ritual tertentu atau sekedar ziarah akan ditangkap, bahkan beberapa di antaranya dihukum mati. Dari hasil wawancara dan pengamatan penulis terhadap beberapa penganut paham ini, serta beberapa tokoh masyarakat yang berkompeten mengetahuinya, maka dapat diamati beberapa faktor yang menyebabkan munculnya Haji Bawakaraeng:

1. Pengaruh Cerita Mitos Tentang Syekh Yusuf
Mitos merupakan hal yang selama ini dianggap kumpulan cerita irrasional dan komikal. Mitos yang lahir dalam kebudayaan primitif maupun dalam zaman modern ini sama-sama mengikuti hukum-hukum perkembangan. Mitos lahir dari penggabungan ide-ide yang logis (Pals, 2006: 40). Sebuah mitos dapat menghubungkan peristiwaperistiwa khayalan dengan kisah hidup seorang tokoh, mitos dapat jadi berkembang secara logis di luar permainan kata, dan memberikan pengaruh yang berkelanjutan pada masyarakat yang percaya terhadap tokoh legenda. Dari karakter mitos-mitos seperti inilah yang menjadi faktor dalam menganalisa kepercayaan Bawakaraeng. 

Menurut keterangan Daeng Jarre;

Sabanarna katte jappa ri Bawakaraeng, nasaba pamminawanganna Tuanta Salamaka Yusuf naniboya barakka’na, anjo Yusuf battupi ri Bawakaraeng nampa lampa ri Makka. 

bahwa apa yang mereka lakukan ke Gunung Bawakaraeng itu, adalah semata-mata sebagai “peminawangan” yakni ikutan pada tuanta Salamaka atau Syekh Yusuf untuk mendapatkan berkahnya, sebab Yusuf ke Bawakaraeng terlebih dahulu sebelum berangkat ke Mekah.

Pada dasarnya penganut paham ini merasa kagum terhadap kehebatan Syekh Yusuf melalui cerita mitologi yang turun-temurun berkembang di tengah masyarakat, sehingga mereka meyakini kebenarannya hingga sekarang dengan mempraktikkan ajaran Syekh Yusuf di Puncak Gunung Bawakaraeng. Mereka yakin bahwa di tempat inilah Syekh Yusuf, wali penyebar Islam di Sulawesi Selatan tinggal bersemayam. Karena itu para pengunjung Gunung Bawakaraeng mendatangi mihrab Syekh Yusuf, karena ketidakmampuan mereka berhaji ke Mekah seperti yang dilakukan oleh Syekh Yusuf. Konon menurut kepercayaan mereka, Syekh Yusuf telah mewakili haji mereka yang sesungguhnya, asalkan ingin berhaji ke Gunung Bawakaraeng.


2. Keinginan Berhaji dan Sulitnya Sistem Haji
Haji merupakan salah satu rukun Islam. Sebagai bagian dari ajaran Islam, mekanisme pelaksanaan haji membutuhkan segala bentuk kemampuan yang berkaitan dengan materil dan non materil, kesiapan mental, kesadaran diri, semangat keagamaan, ketulusan hati, perjuangan, dan pengorbanan (Putuhena, 2007: V). Umumnya, seorang bersedia melakukan apa saja demi melaksanakan ibadah ini. Bahkan tidak jarang seseorang rela menjual aset berharganya misalnya; sawah, tanah, kendaraan, perhiasan, dan aset lainnya demi untuk menunaikan rukun Islam yang kelima ini. Mereka dengan tulus dan ikhlas menunaikan haji yang ritualnya menyerupai rekonstruksi perjalanan para nabi Allah itu. Mereka tidak peduli, apakah setelah kembali mereka masih punya cukup aset untuk menyambung hidup lagi, asalkan sudah pernah menengok kota nabi itu.

Konon seseorang bahkan rela berhutang untuk menutupi ongkos naik haji yang sekarang besarannya sekitar Rp 35 juta. Juga tidak jarang terjadi di masyarakat Bugis- Makassar, orang tua membawa anak-anaknya berangkat haji, bahkan meski si anak belum cukup umur. Dengan asumsi bahwa anak-anak yang semuanya sudah bergelar haji, status sosial keluarga itu akan sangat terhormat dalam masyarakatnya, bahkan mendapattempat yang istimewa dalam acara-acara tertentu, misalnya pernikahan, kelahiran dan lain sebagainya. Dengan keinginan yang kuat tersebut, sehingga sebahagian masyarakat Bugis-Makassar khususnya penganut kepercayaan haji Bawakaraeng mencari cara lain yang ditempuh untuk mendapatkan kehormatan ini, misalnya dengan menciptakan ritual tandingan berhaji di puncak Gunung Bawakaraeng oleh sebagian orang Bugi-Makassar, yang didasarkan pada anggapan bahwa pahala dan keafdhalannya dianggap sepadan dengan prosesi yang dilakukan di Mekah dan Medinah. munculnya Haji Bawakaraeng tidak lepas dari semangat mereka yang ingin menunaikan rukun Islam yang ke lima itu. Di samping itu, sulitnya sistem dan prosedur pelaksananaan ibadah haji yang dikelurakan oleh pemerintah Indonesia, sehingga sebagian kalangan mengambil jalan pintas dalam pelaksanaan ibadah haji ini.

Berdasar pula pada kisah seorang tukang jahit sepatu Ali al- Muwaffaq yang tidak sempat menunaikan haji ke Mekah karena memberi pertolongan kepada tetangganya yang butuh bantuan, dan Sufi Rabiatul Adawiyah yang tidak melakukan haji di Mekah, tetapi pahala haji mereka diterima di sisi Allah SWT. Inilah yang membuat mereka tertarik dan dijadikan tolok ukur. Oleh karena menunaikan ibadah haji di Mekah memerlukan fisik yang kuat dan perjalanan berat, maka mereka menganalogikan suatu tempat yang mulia
yang memerlukan juga suatu perjalanan yang agak berat dan mereka memilih tempatnya
yaitu Gunung Bawakaraeng.


3. Pengaruh Agama Primitif
E.B Tylor mendefinisikan agama sebagai keyakinan terhadap sesuatu yang spiritual. Definisi ini dapat diterima dan memiliki kelebihan tersendiri, karena sederhana, gamblang dan memiliki cakupan luas. Lebih jauh Tylor mengemukakan bahwa kita dapat menemukan kemiripan-kemiripan lain dalam setiap agama, namun satu-satunya karakteristik yang dimiliki setiap agama, besar maupun kecil, agama purba maupun modern, adalah keyakinan terhadap roh-roh yang berpikir, berperilaku seperti manusia (Pals, 2006: 41). Inilah asal-usul agama dalam pengertian Tylor dalam teorinya tentang primitive culture dan primitive religion.

Berangkat dari asumsi tersebut, agama primitif masih nampak mempengaruhi kepercayaan masyarakat modern pada saat ini. Termasuk masayarakat di Sulawesi Selatan, walaupun Islam telah masuk di wilayah ini sekitar abad ke-17, tetapi masih ada sebahagian praktik kepercayaan masyarakat di daerah ini yang percaya terhadap roh-roh leluhur (animisme). Ada beberapa kelompok penduduk Bugis-Makassar yang walaupun mengaku penganut agama Islam, akan tetapi pada inti kepercayaannya terdapat konsepkonsep kepercayaan leluhur, seperti kepercayaan Tolotang di Sidenreng Rappang yang dipimpin oleh seorang pemimpin yang disebut Uwa’, dengan konsep dewa tertinggi yang disebut To-Palanroe (Hasse, 2005). Masih terdapat konsep kepercayaan mereka merupakan sisa-sisa kepercayaan pada masa Lagaligo, yaitu zaman pemerintahan rajaraja Bugis-Makassar yang tertua.


4. Pengaruh Aliran Tarekat
Aliran tarekat dalam pemahamannya selalu disandarkan pada ajaran tasawuf, yang merupakan salah satu aspek dari ajaran Islam. Ajaran tasawuf ini mengutamakan kebersihan dan kesucian batin, yang diperlukan untuk sampai pada kebenaran Ilahi, sebagai kebenaran mutlak. Paham tasawuf ini nampak diilhami oleh cara yang ditempuh Nabi Muhammad melakukan khalwat di Gua Hira sebelum menerima wahyu Tuhan. Setelah berkhalwat selama beberapa waktu Nabi Muhammad mencapai kesucian lahir batin, dan ketika itulah datang malaikat Jibril menyampaikan wahyu kepada beliau (Djamas, 1983: 74). Dari kejadian itulah muncul berbagai macam ajaran tasawuf yang dalam pahamnya terwujud ke dalam berbagai aliran tarekat. Di Gunung Bawakaraeng yang berada sebagian besar dalam wilayah kecamatan Tinggi Moncong kabupaten Gowa, terdapat suatu aliran tarekat yang bernama “Barakka Bontolebang dan Barakka Balasuka”.

Di sini dapat dilihat, tradisi naik ke Bawakaraeng bukan hanya dipengaruhi oleh cerita mitos dan agama primitif. Ini dapat terlihat adanya masyarakat dari kalangan Islam yang memahami ajaran tarekat yaitu; Barakka Bontolebang dan Barakka Balasuka yang merupakan salah satu bentuk tarekat yang inti ajarannya sudah banyak diselenggarakan dari aqidah Islam.


Sekalipun sebagian besar penganut paham ini mengingkari adanya hubungan dengan pengunjung Haji Bawakaraeng, namun yang jelas dapat diketahui bahwa ajaran ini diterima di Gunung Bawakaraeng melalui wali, sehingga tidaklah diherankan bilamana sebagian masyarakat penganut paham ini dapat bertambah yakin atas kemuliaan dan kehebatan Gunung Bawakaraeng dan mereka berusaha untuk senantiasa mengunjungi Gunung Bawakaraeng untuk mendapatkan berkah dan sekaligus melakukan semacam ibadah haji bilamana bertepatan pada raya Idul Adha.

Makam Tuanta Salamaka Syekh Yusuf

Potret Buram Makam Tuanta Salamaka Syekh Yusuf

Kompleks Makam Tuanta Salamaka Syekh Yusuf
Kompleks Makam Tuanta Salamaka Syekh Yusuf
BugisPos.com — Tuanta Salamaka, Syekh Yusuf, memiliki lebih dari satu makam. yang antara lain terletak di Afrika, Srilanka, Banten, Sumenep (Madura), Makamnya di Makassar sendiri terletak di Jl.Syekh Yusuf, tepat di garis perbatasan Kota Makassar dengan Kab.Gowa.
Jasadnya telah dipindahkan Dari kuburnya di Afrika, jasad Syekh Yusuf dipindahkan ke Makassar, kata juru kunci makam Tuanta Salamaka kepada Wartawan BugisPos.com. Sedangkan di Srilanka, yang dimakamkan berupa jubah dan sorban, di Banten berupa tasbih, di Sumenep, berupa jubah dan sorban.
Makam Wali besar Sulawesi Selatan ini yang terletak di beberapa daerah tersebut, sungguh sangat dihormati, dihargai, dan sangat dijaga keberadaanya. Makam yang di Afrika, pun demikian. Selalu terjaga dengan baik.
Lantas bagaimana dengan makam Syekh Yusuf di tanah kelahirannya sendiri ? Sesungguhnya sangat menyedihkan. Selama ini, keberadaan makam ulama besar tersebut, nyaris tak mendapatkan perhatian sedikitpun dari pemerintah setempat. Buktinya, orang-orang yang berziarah ke makam Tuanta Salamaka, akan senantiasa sangat terganggu oleh kelompok-kelompok preman, yang kerjanya menguras isi dompet para para peziarah. Bahkan seorang petinggi dari Malaysia, tatkala berziarah ke makam tersebut, dompetnya jadi kosong setelah keluar dari areal makam.
Di depan makam, jalan rusak dan berlubang sepanjang 100 m, sehingga kerap menimbulkan kemacetan terutama pada waktu peziarah ramai. Jalan tersebut menghubungkan ke arah makam Raja-raja Gowa, di Sungguminasa, yang berjarak sekitar 500 m.
Masyarakat peziarah ke makam Syekh Yusuf, datang dari berbagai daerah, suku, keyakinan. Baik anak bayi, orang dewasa, pengantin, orang kaya, sederhana, hingga miskin, yang kesemuanya berziarah semata – mata mengharap berkah untuk tercapainya suatu keinginan dan harapan mereka dari Allah Swt.
Selain tujuan tersebut ada juga yang berziarah dengan maksud melepas seekor kambing, sebagai rasa syukur atas terkabulnya apa yang diharapkan, sebagai pelunas nazar yang pernah diucapkan di makam itu sebelumnya
Di dalam kompleks makam, ada perpustakaan yang terkesan tidak terpakai lagi. Menurut warga sekitar makam, perpustakaan tersebut akan dibuka bila ada permintaan. Maka dengan meminta kepada seseorang yang dipercaya merawat perpustakaan itu akhirnya Wartawan BugisPos.com bisa menyaksikan isi perpustakaan, yang ternyata memang tidak terawat lagi.
Isi perpustakaan yang ada disitu tidak satupun buku tentang sejarah Syekh Yusuf dan kerabatnya yang dimakamkan di kompleks makam. Jangankan buku, gambar Syekh Yusuf yang banyak beredar, tidak satupun yang terpajang didalam ruangan. Sedangkan buku-buku yang dapat dijumpai disitu hanya sejarah tentang daerah-daerah yang ada di Sulawesi Selatan, dan pajangan boneka dengan pakaian muslim.
Didepan gerbang makam tampak seorang yang berpakaian seragam Satpam yang dikelilingi oleh orang-orang yang tak jelas apa tugasnya, sehingga sering kali membingungkan peziarah.
Orang-orang tersebut berlomba menawarkan jasa kepada peziarah.
“Sayapi antarki pak, bayarmaki retribusi sama saya”. desak mereka kepada peziarah. Bila memasuki areal makam mereka juga minta ongkos parkir sepatu. Tidak. Padahal di seputar makam tidak ada lemari penitipan, seperti yang terdapat pada Mesjid Lakiung tepat disebelah kompleks makam.
Menurut beberapa peziarah yang sempat ditemui BugisPos.com, berharap agar makam tersebut ditertibkan dan dilengkapi sarana penunjang, baik dari yayasan yang dipercaya mengelola makam maupun pemerintah, supaya kondidi makam ini tidak semakin kacau.
Tujuan peziarah ke makam ini,
Jualan Bunga
Hasil pantauan Wartawan BugisPos.com, di seputar makam Syekh Yusuf, masyarakat yang mencari nafkah disitu, terbagi menjadi beberapa kelompok mata pencaharian. Ada yang menawarkan bunga dan perlengkapannya kepada para peziarah. Pekerjaan ini sangat membantu para peziarah yang tidak membawa perlengkapan untuk berziarah, cuma tidak sedap dipandang mata karena mereka saling berebutan untuk mendapatkan pembeli. Ketika BugisPos.com menanyakan kepada salah satu dari mereka, mereka menjawab dengan enteng dan tanpa ragu-ragu. “Ini masalah perut pak ! yang tidak bisa ditawar-tawar lagi karena susahnya mencari pekerjaan”. “Tinggal ma ko, tak dapat ma ki pembeli, kodong”. kata seorang ibu yang berjualan tepat di depan kompleks makam. “Rata-rata penghasilan bersih itu berkisar Rp. 20.000 per hari, pokoknya cukup mi untuk makan sekeluarga”. jelas seorang ibu yang tak mau menyebut namanya ini.
Dulu didepan makam berjejer dengan rapi lods-lods penjual bunga, Cuma karena dianggap merusak pemandangan makam serta menghambat lalu lintas kendaraan, akhirnya mereka dilarang dan lods yang ada dibersihkan dari depan makam.
Ada juga kelompok yang berada di depan gerbang makam sampai depan pintu masuk. Mereka terdiri dari beberapa orang sambil mendampingi security yang lagi bertugas mereka juga menganjurkan para peziarah untuk mengisi celengan yang ada didepan mereka sembari menawarkan jasa untuk mengantar masuk ke makam, ada juga yang menjaga alas kaki peziarah dengan mengharapkan upah. Namun semua itu terkesan seperti pemalakan, karena meminta langsung retribusi dengan ketentuan yang sudah mereka tetapkan. Setelah para peziarah keluar dari makam mereka meminta lagi untuk penjagaan alas kaki tadi. Selain itu mereka juga berebut memintah sedekah, sehingga kerapkali merubah suasana menjadi ribut.
Di dalam makam juga terdapat beberapa orang yang melakukan hal yang serupa dengan kelompok kedua tadi, karena para peziarah yang berkunjung selain memasukkan sedekah berupa uang kedalam celengan yang sudah disediakan, terdapat juga orang yang langsung memintah sedekah dengan dalih bahwa mereka membantu mengangkat tangan dalam berdoa untuk mengminkan, agar doa terkabul, sehingga secara otomatis tangan yang tadinya berdoa seketika itu juga berubah posisi menjadi tangan pengemis.
Beberapa peziarah menceritakan pengalamannya kepada BugisPos.com. Saat peziarah berdo’a, mereka juga para premam ini ikut berdo’a. Selesai memanjatkan doa, sekejap tangan mereka dijulurkan meminta sedekah pada peziarah. Ada juga yang ziarah dengan membawa uang beberapa lembar uang 100 ribuan, tetapi betapa kaget sambil tertawa karena merasa lucu, sebab uang dalam dompet tersebut tidak tersisa selembarpun.
Dengan kondisi seperti ini, belakangan ini masyarakat makin resah. Bahkan banyak yang berniat menziarahi makam Tuanta Salamaka tersebut, tapi urung karena kondisi kompleks makam yang semakin kacau.
A. Rimba Alam Pangerang, Kadis Parawisata dan Kebudayaan Kab. Gowa ketika ditemui Wartawan BugisPos.com di ruang kerjanya, terkesan pasrah dengan keadaan yang terjadi di makam Syekh Yusuf.
“Memang sudah begitu keadaannya. Mau diapakan lagi” kata Rimba Alam Pangerang, yang juga menjadi salah seorang pengurus Yayasan Syekh Yusuf, yang membidangi masalah pendidikan.
Menurut Rimba, Pemkab Gowa pernah menempatkan Satpol PP untuk menertibkan makam, tapi kenyataannya mereka sebagai aparat juga tak dapat bertahan lama disitu, karena masyarakat di sekitar makam melakukan perlawanan. Sejak kecil hingga dewasa mereka memang sudah disitu” keluh Kadis
Makam Syekh Yusuf, kata Rimba, dikelola langsung oleh Yayasan Syekh Yusuf, Dinas Parawisata dan Kebudayaan Gowa hanya melakukan koordinasi saja. Kata Rimba, namun dia tak memberi jawaban memuaskan tentang solusi yang tepat untuk mengatasi kesemrawutan di makam tersebut, yang merupakan cagar budaya yang harus dipeliharan karena dilindungi Undang-undang.
Apakah memang Pemkab Gowa tutup mata dengan keadaan ini, ataukah mereka memang tak mampu untuk mengurusnya ? Tak ada jawaban pasti 

TUANTA SALAMAKA

TUANTA SALAMAKA TERNYATA LAHIR DI MONCONGLOE

Sumber tertulis pertama yang mengungkapkan kehidupan Syekh Yusuf Makassar adalah buku sejarah tradisional milik Makassar, yaitu yang disebut “Lontara”. Ada tiga Lontara yang menginformasikan sebagian besar hidupnya, yaitu Lontara Tallo, Gowa dan Lontara Bilang. Ketiga lontara ini dianggap sangat handal dalam melacak Riwayat Tuanta Salamaka ri Gowa. Selain itu, tradisi lisan yang terkenal antara orang-orang Bugis-Makassar di Sulawesi Selatan juga banyak menceritakan kisah Tuanta Salamaka.
Menurut “Lontara Bilang”, warisan dari kerajaan kembar Gowa-Tallo, Syekh Yusuf lahir pada tanggal 3 Juli 1626 M bertepatan dengan 8 Ramadhan 1036 H. Kisah kelahirannya diberitahu dalam tradisi lisan di masyarakat Bugis-Makassar dan itu menjadi kesepakatan di antara mereka. Fakta ini menunjukkan bahwa kelahirannya adalah 20 tahun setelah kerajaan Gowa dan Tallo menerima agama Islam dari Ulama dari Minangkabau, yaitu Abdul Kadir Khatib Tunggal atau populer disebut Dato’ri bandang.
Sebagai manusia biasa, ia lahir di dunia melalui ayah dan ibunya. Seperti yang dinyatakan dalam Lontara Riwaya’na Tuanta Salama ri Gowa, ayahnya adalah Galarrang Moncongloe, saudara dari garis ibu raja Gowa Imanga’rangi Daeng Manrabia atau yang umum dikenal sebagai Sultan Alauddin, raja pertama yang masuk Islam dan menyatakan Islam sebagai agama resmi kerajaan-Nya, pada tahun 1603. Ibunya bernama Aminah binti Dampang Ko’mara, yang merupakan keturunan dari keluarga ningrat dari kerajaan Tallo, kerajaan kembar Gowa.
Namun, menurut Hasyiyat fi al-Kitab al-Anba ‘I’rab la ilaha illa Allah, salah satu karya-karya Syekh Yusuf menyatakan bahwa ayahnya adalah Abdullah, sehingga Prof. Hamka memutuskan bahwa nama ayahnya adalah Abdullah.Selain itu, tradisi lisan yang diwarisi oleh keturunannya menginformasikan bahwa Ayahnya adalah Nabbi Hillere’ (Nabi Khaidir). Namun, nama terakhir ini masih menjadi kontroversi di masyarakat umum karena beberapa hal bahwa dia adalah nabi Khaidir. Meskipun demikian, berita yang menyebutkan bahwa ayahnya adalah Gallarang Moncongloe,lebih masuk akal, dan kemudian interfretasi bahwa nama Islam untuk gallarrang Moncongloe adalah Abdullah Khaidir.
Kehidupan Syekh Yusuf populer sampai sekarang di empat tempat atau negara, mereka adalah Makassar (Sulwesi Selatan), Banten (Jawa Barat), Ceylon (Sri Langka), dan Cape Town (Afrika Selatan) karena dia menghabiskan sebagian hidupnya di tempat-tempat itu. Di Ceylon dan Afrika Selatan, ia bahkan dianggap sebagai yang pertama yang meletakkan dasar-dasar dari komunitas muslim yang ada dan sebagai pelopor dari beberapa komunitas Muslim di Afrika selatan yang berjuang untuk mewujudkan persatuan melawan penindasan dan perbedaan etnis, dari sini Nelson Mandela kemudian terinspirasi dan menggelorakan Politik anti Apharteid.
Selama masa kecilnya, ia habiskan dengan belajar membaca al-Qur’an dan diajarkan bagaimana cara mempraktekkan Islam dalam kehidupan sehari-hari. Setelah mampu membaca al-Qur’an dan siap untuk studi lebih lanjut, ayahnya mengirimnya ke pondok pesantren Bontoala untuk mempelajari pengetahuan Islam dan sarana linguistik seperti: Nahw, Sharf, Balaghah, Ma’ani dan ‘Ilm al-Mantiq. Setelah itu, Syekh Yusuf berguru di pondok Cikoang dibawah bimbingan Syekh Jalaluddin al-Aidid. Karena kecerdasannya dalam mengikuti Majlis, ia kemudian disarankan oleh guru-gurunya untuk melanjutkan studi di Jazirah Arabia.
Setelah menjelajah Timur Tengah sekitar dua puluh tahun untuk belajar Islam, ia kembali ke kampung halamannya. Meskipun ada cerita lisan menyatakan bahwa dia tidak pernah pulang ke rumah, cerita ini tidak dapat diterima karena tidak mendapatkan alasan yang kuat dan fakta historisnya lemah. Namun, perlu dicatat bahwa setelah kembali ke Nusantara, Syekh Yusuf menjadi pejuang yang menggelorakan pemberontakan melawan Belanda baik ketika ia di Makassar, Banten, Ceylon, dan Afrika Selatan. Di mana pun dia, dia selalu mengumandangkan Dakwah Islamiyyah dan menggelorakan Jihad fi Sabilillah.
Syekh Yusuf juga populer sebagai penulis yang produktif dari tasawwuf yang berbahasa Makkassar, Bugis, Arab, Jawa, dan Arab. Karya-karyanya yang ditulis dalam bahasa Arab,diantaranya sebagai berikut:

1. al-Barakat al-Sailaniyyah
2. 
Bidayat al-Mubtadi ‘
3. 
al-Fawaih al-Yusufiyyah
4. 
Hashiyah dalam Kitab al-Anba ‘
5. 
Kaifiyyat al-Munghi
6. 
Matalib al-Salikin
7. 
al-Nafhat al-sailaniyyah
8. 
Qurrat al-’Ain
9. 
Sirr al-Asrar
10. 
Sura
11. 
Taj al-Asrar
12. 
Zubdat al-Asrar
13. 
Fath al-Dzikr Kaifiyyat
14. 
Dafal-Bala ‘
15. 
Hazhihi Fawaid ‘Azima Dzikr La ilaha illa Allah
16. 
Muqaddimat al-Fawaid allati la ma Buddha min al-’Aqaid
17. 
Tahsil al-Inayah wa al-Hidayah
18. 
Risalah Ghayat wa Nihayat al-Ikhtishar al-Intizar
19. 
Tuhfat al-Amr fi-Dzikr Fadilat mengapak
20. 
Tuhfat al-Abrar li Ahl al-Asrar
21. 
sebuah Madarrat al-Munjiyya ‘al-Hijaiba
Syekh Yusuf meninggal pada 22 Zulqaidah 1109 H bertepatan dengan 23 Mei 1699 M. dalam pengasingan. Yakni di Zandvliet pada usia 73 tahun. Dia dimakamkan di bukit berpasir Fasle Bay (Kampung Macasar Capetown Afrika Selatan, tidak jauh dari tempat tinggalnya. Makamnya sekarang dijadikan sebagai tempat yang ’suci’. Makamnya dilengkapi dengan bangunan, termasuk makam dari empat muridnya yang juga berjuang untuk Islam di Afrika Selatan.***

Makam Syekh Ini Ada Lima

Makam Syekh Ini Ada Lima

Cerita sejarah yang berbeda-beda dengan keyakinan yang berbeda pula membuat keberadaan makam Syekh ini dipertanyakan. Bagaimana tidak? Makam Syekh ini ada lima di berbeda tempat bahkan hingga ke luar negeri. Dia adalah Syekh Yusuf Tuanta Salamaka yang terkenal sebagai wali, ulama sufi yang berhasil dalam menyebarkan agama Islam hingga daratan Afrika. Di negeri tersebut pula, dikabarkan bahwa Syekh Yusuf telah menghembuskan nafas terakhirnya. Putra kelahiran Sulawesi Selatan itu berada di Afrika karena diasingkan oleh pemerintah kompeni di Batavia.
Satu makam berada di Afrika Selatan, sementara ada juga di Makassar yang menurut sang juru kunci makam meyakini bahwa disitulah beliau telah meninggal yang tepatnya pada 23 Mei 1699 di usianya 73 tahun. Berdasarkan dari catatan juru kunci makam, berita meninggalnya Syekh Yusuf beredar luas, termasuk ke tanah Goa (sekarang Gowa). Pihak kerajaan dan bangsawan Gowa pun memulangkan jenazah wali Allah tersebut.
Juru Kunci menambahkan bahwa proses pemulangan jenazah sempat terhalang karena tidak diizinkan oleh pemerintah Kompeni. “Masih ada ketakutan dari penjajah akan munculnya semangat perlawanan dari Nusantara jika dipulangkan,” ujar Rahmat, sang juru kunci makam Syekh Yusuf. Akhirnya, jenazah bisa dipulangkan setelah Raja Gowa, Sultan Abdul Jalil berhasil melakukan negosiasi dengan pemerintah Kompeni. Namun, keberhasilan tersebut didapat setelah enam tahun kemudian setelah Syekh Yusuf meninggal. Itupun, konon ada syarat yang harus dipenuhi yakni yang bisa kembali ke Nusantara adalah anak-anaknya yang berusia lima tahun ke bawah.
Dalam perjalanan pulang itulah, jenazah Syekh Yusuf sempat disinggahkan di beberapa tempat, seperti Sri Lanka, Banten, Sumenep (Madura), terakhir di Makassar. Daerah-daerah itu dikenal banyak tinggal murid dan pengikut tarekat Khalwatiyah. “Di setiap daerah yang disinggahi, maka para pengikut dan murid berinisiatif membuat makam sebagai bentuk penghargaan dan penghormatan. Makanya makam Syekh Yusuf itu diyakini di beberapa tempat,” jelas Rahmat.
Ia juga meyakinkan, bahwa jasad yang asli itu berada di Makassar. Sedangkan makam di Sri Lanka, itu berupa jubah dan sorban, di Banten, yang dimakamkan adalah tasbih, dan makam di Sumenep, juga berupa jubah dan sorban. “Kalau di Afrika itu ditegaskan sebagai makam awalnya sebelum dipindahkan ke Makassar,” tambahnya. Sebagai pelabuhan terakhir, Syekh Yusuf kini dimakamkan di Lakiung, atau saat ini lebih dikenal dengan Ko’bang, yang berada di Jalan Syekh Yusuf, perbatasan Gowa dan Makassar.
Saat ini, makam wali besar Sulawesi Selatan ini sungguh sangat dihormati, dihargai, dan dijaga keberadaanya. Setiap harinya, makam tersebut ramai dikunjungi masyarakat, yang berasal dari penjuru dunia. Menurut Rahmat, pengunjung pada hari normal, tidak kurang dari 20 orang setiap harinya. “Tapi setelah lebaran Idul Fitri dan Idul Adha, para pengunjung paling ramai. Pernah mencapai lebih dari 1000 orang,” kata dia. Kedatangan warga tersebut adalah untuk berziarah, semata-mata mengharap keramat dari almarhum Syekh Yusuf. Apalagi jika mereka meniatkan sesuatu serta ada keinginan dan harapan yang tercapai, seperti nazar.
Dalam sejarahnya, Syekh Yusuf merupakan pendiri ajaran tarekat khalwatiyah. Kemudian, Syekh Yusuf juga berhasil mendapat dua penghargaan sebagai pahlawan nasional dari Indonesia pada 9 November 1996 dan dari pemerintah Afrika Selatan pada 23 September 2005. “Afrika Selatan memang sangat berterima kasih pada Syekh Yusuf karena ajaran Islam di sana yang tidak membedakan warna kulit. Dia di sana bahkan digelar As-salam,” kata dia lagi.
Makam Syekh Yusuf berada dalam sebuah kompleks. Untuk menandai makam tersebut, dibangun sebuah kubah, dikenal dengan Ko’bang, berukuran 11 x 11 meter persegi. Dalam kubah tersebut terdapat 11 makam termasuk Syekh Yusuf. Sedangkan lainnya adalah istri dari Sultan Gowa, I Sitti Daeng Nisanga, yang berada di sisi kiri dan Raja Gowa, Sultan Abdul Jalil, yang berperan besar memulangkan jenazah Syekh Yusuf. Sembilan makam lainnya adalah pengikut dan kerabat dari Syekh Yusuf, yang masing-masing bernama Mappadulung Daeng Mattimung, Karaengta Panaikang, Syekh Abd. Basyir, Tuang Loeta, I Lakiung, Tanri Daeng, Tanri Uleng, Tanri Abang dan Daeng Ritasammeng

Syekh Yusuf Tuanta Salamaka

Sinrilik Syekh Yusuf Tuanta Salamaka -Syekh Yusuf Tajul Khalwati (lahir di Gowa, Sulawesi Selatan, 3 Juli 1626 – wafat di Cape Town, Afrika Selatan, 23 Mei 1699 pada umur 72 tahun) adalah salah seorang Pahlawan Nasional Indonesia yang lahir dari pasangan Abdullah dengan Aminah dengan nama Muhammad Yusuf. Nama ini diberikan oleh Sultan Alauddin, raja Gowa, yang juga adalah kerabat ibunda Syekh Yusuf. Nama lengkapnya setelah dewasa adalah Tuanta' Salama' ri Gowa Syekh Yusuf Abul Mahasin Al-Taj Al-Khalwati Al-Makassari Al-Banteni.
TUANTA SALAMAKA
Pendidikan agama diperolehnya sejak berusia 15 tahun di Cikoang dari Daeng Ri Tassamang, guru kerajaan Gowa. Syekh Yusuf juga berguru pada Sayyid Ba-lawi bin Abdul Al-Allamah Attahir dan Jalaludin Al-Aydit.


Kembali dari Cikoang Syekh Yusuf menikah dengan putri Sultan Gowa, lalu pada usia 18 tahun, Syekh Yusuf pergi ke Banten dan Aceh. Di Banten ia bersahabat dengan Pangeran Surya (Sultan Ageng Tirtayasa), yang kelak menjadikannya mufti Kesultanan Banten. Di Aceh, Syekh Yusuf berguru pada Syekh Nuruddin Ar-Raniri dan mendalami tarekat Qodiriyah.


Syekh Yusuf juga sempat mencari ilmu ke Yaman, berguru pada Syekh Abdullah Muhammad bin Abd Al-Baqi, dan ke Damaskus untuk berguru pada Syekh Abu Al-Barakat Ayyub bin Ahmad bin Ayyub Al-Khalwati Al-Quraisyi. Dalam sejarah pentuturan orang Makassar, maka kisah Syekh Yusuf Tuanta Salamaka’ di abadikan lewat tutur lisan yang yang dikenal dengan nama Sinrilik. Sinrilik adalah semacam tutur sastra Makassar yang mengabadikan peristiwa yang dianggap urgent. Nah kepada pencinta sejarah atau orang yang ingin mengkaji kisah Syekh Yusuf Tuanta Salamaka versi tutur lisan sastra Makassar atau sinrilik,

Deppa Tori

Resep & Cara Pembuatan Deppa Tori

Halo apa kabar?
pastinya baik-baik saja kan.....
Saat ini saya akan menjelaskan cara membuat kue khas toraja yg terbuat dari tepung beras dan gula merah, bentuknya tidak terlalu menarik tapi rasanya luar biasa yaitu Deppa Tori (kue tori).
Berikut resep Kue Tori - kue khas Toraja. Mudah - mudahan takaran bahannya pas dan bisa jadi kue yang enak, soalnya buat kue ini gampang2 susah juga sih.



DEPPA TORI (KUE TORI)



Bahan  :
1 kg Tepung beras
1 kg Gula merah
1/2 lt Air
Vanilli secukupnya
Pengembang kue / Baking Powder secukupnya (dikit aja)
Wijen sebagai taburan
Minyak untuk menggoreng
Cara membuat  :
Masak air dan gula merah sampai kental (campuran gulanya tidak putus kalo diangkat),diamkan sebentar. Ayak tepung beras, vanilli, pengembang kue kemudian campur ke dalam air gula yang dimasak tadi. Aduk adonan merata hingga bisa dibentuk/dicetak. Cetak diamond, taburi dengan wijen (pastikan wijennya melekat bagus di adonan yang sudah dicetak). Goreng hingga berwarna coklat mengkilat, lalu tiriskan.
Kue Tori siap disajikan.....