#header img { max-width: 99%; max-height:90%; margin:1px 1px;padding:0px;} .post img { vertical-align:bottom; max-width:90%; max-height:90% } #navigation img { vertical-align:bottom; max-width:80%; }
Tampilkan postingan dengan label rumah adat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label rumah adat. Tampilkan semua postingan

Rabu, 26 Februari 2014

Rumah Adat Toraja: Tongkonan

Rumah Adat Toraja: Tongkonan

Rumah Adat Toraja

Anda tentu mengenal Suku Toraja, setidaknya melalui media berita. Toraja acap kali digadang-gadang sebagai destinasi paling menarik selain Pulau Dewata. Meskipun memang harus diakui, daya tariknya masih belum dipoles semenarik Bali. Tapi hal tersebut bukan alasan yang tepat bagi Anda mengecualikan Toraja dalam daftar destinasi liburan. Mengapa? Alasannya tentu karena ada banyak hal menarik dari suku yang mendiami pegunungan sebelah utara Pulau Sulawesi bagian selatan tersebut. Salah satunya adalah rumah adat Toraja yang lazim dikenal dengan nama Tongkonan.

To Riaja

Jika menilik artian harfiahnya, Toraja sebenarnya berasal dari bahasa Suku Bugis: To Riaja yang kurang lebih berarti ‘orang yang mendiami negeri bagian atas’. Memang, Suku Toraja faktanya mendiami pegunungan yang berbatasan dengan Kabupaten Enrekang Sulsel. Selain upacara pemakamannya yang epik, Toraja juga termasyur oleh karena rumah adatnya yang cantik. Rumah tersebut dikenal dengan nama Tongkonan atau rumah leluhur. Namun berbicara mengenai rumah adat Toraja, tentu kita perlu juga menyebutkan Banua. Rumah yang disebut Banua ini hanya dihuni masyarakat biasa. Sedangkan Tongkonan sendiri merupakan rumah yang khusus dihuni kaum bangsawan Suku Toraja. Oleh karena arsitekturnya yang menarik, Tongkonan kemudian dinobatkan sebagai rumah adat Toraja. 

Apa yang menarik dari Tongkonan? Banyak. Rumah adat yang satu ini memiliki bentuk yang unik, tata letak yang apik, serta ukiran di sekujur bagian rumah yang menarik. Secara umum, Tongkonan ini dikategorikan sebagai rumah panggung yang terbuat dari kayu. Bukan kayu sembarangan tentunya. Jenis kayu yang digunakan untuk membuat Tongkonan kabarnya memiliki kualitas juara dan hanya ditemukan di wilayah Sulawesi Selatan saja. Maka itu, jangan heran jika tanpa pernis dan plitur, kayu rumah Tongkonan tetap awet hingga ratusan tahun.

Sama seperti rumah adat lainnya, Tongkonan juga dibagi ke dalam beberapa bagian, antara lain:
  1. Sulluk banua atau bagian kolong rumah.
  2. Kale Banua atau bagian badan rumah mencakup seluruh ruangan yang ada di dalamnya.
  3. Ratiang Banua, yakni bagian atap rumah.

 
Jika diamati, Tongkonan hampir serupa dengan rumah adat Sumatera Utara.Ia juga memiliki atap yang tinggi menjulang ke langit. Suku Toraja juga menghias atap tersebut dengan tanduk kerbau. Kerbau memang perlambang kebangsawanan Suku Toraja dan Suku Batak.

Adapun sisi barat juga timur dari Tongkonan dilengkapi dengan jendela kecil. Ia merupakan celah tempat cahaya matahari bertamu. Jika Anda jeli memperhatika, ukiran kayu pada rumah Tongkonan Suku Toraja juga hampir serupa dengan rumah adat suku Batak. Elemen warna juga kurang lebih sama. Karena corak budaya yang mirip inilah sehingga banyak tafsir sejarah yang berpendapat bahwa Suku Toraja dan Suku Batak berkerabat dekat.

Hal lain yang juga sama adalah tata letak rumah adat, baik Toraja maupun Batak memiliki rambu-rambu tersendiri dalam menentukan letak rumah adat mereka. Untuk Tongkonan, hal yang mengikat dan tak boleh dilanggar adalah rumah dibangun haruslah menghadap ke utara. Adapun letak pintu ada pada bagian depan rumah.

Bagi Suku Toraja, arah mata angin memang sakral. Mereka percaya bahwa bagian utara merupaka kepala atau yang dikenal dengan istilah Ulunna Langi, yakni kepala langit dimana Puang Matua atau tuhan berada. Adapun bagian Timur yang disebut MataAllo merupakan titik energi dimana matahari muncul. Timur ini dikenal juga sebagai sumber kebahagiaan pun kehidupan. Sementara itu bagian Barat atau yang dikenal dengan nama Matampu adalah tempat matahari terbenam. Bagi Suku Toraja, arah ini merupakan lawan dari kehidupan. Ia dianggap titik kematian juga kesusahan. Terakhir adalah arah selatan yang dikenal juga dengan nama Pollo’na Langi atau pantat langit. Ia merupaka lawan arah dari tempat Puang Matoa berdiam. Oleh sebab itu selatan bagi Suku Toraja merupakan sumber hal-hal yang tak baik atau juga angkara murka.

Jenis-jenis Tongkonan 



Rumah adat Toraja, Tongkonan dibagi ke dalam 4 jenis. Pembagian ini didasarkan pada fungsi Tongkonan itu sendiri, yakni:
  1. Tongkonan Layuk, merupakan rumah dimana peraturan serta penyebarannya disusun.
  2. Tongkonan Pakamberan/Pakaindoran, merupakan rumah adat Toraja tempat dimana atura-aturan yang telah dibuat dilaksanakan. Umumnya, dalam suatu region, ada banyak Tongkonan Pakamberan yang keberadaannya di bawah Tongkonan Layuk.
  3. Tongkonan Batu A’riri, merupakan rumah dimana pertalian keluarga dijalin. Jadi di rumah ini tak ada aktifitas adat.
  4. Barung-barung, yakni tongkonan yang didiami oleh keluarga bangsawan atau semacam rumah pribadi. Jenis tongkonan ini diwariskan dari keluarga yang satu hingga generasi pelanjut berikutnya.

Rumah Adat Toraja ini memang dahulu dihuni oleh bangsawan saja. Namun saat ini, bukan hal yang mustahil menjumpai rumah Tongkonan ini dimiliki dan dihuni masyarakat biasa. Mereka yang jatuh cinta pada keunikan Toraja.

RUMAH ADAT BUGIS

RUMAH ADAT BUGIS

Setiapbudaya memiliki Ciri Khas Rumah Adatnya Masing-masing. Begitu Pula Dengan Bugisrumah adat bugis itu terdiri dari tiga Bagian. Yang Dimana Kepercayaan Tersebut terdiri atas :
1.Boting Langiq (Perkawinan Di langit yang Dilakukan Oleh We Tenriabeng)
2.Ale Kawaq (Di bumi. Keadaan-keadaan yang terjadi Dibumi)
3.Buri Liu (Peretiwi/Dunia Bawah Tanah/Laut)
 yang masih mempercayai bahwa
rumahbugis 1 Budaya Bugis : Rumah Adat Bugis
Bagian-Bagian Dari Rumah Adat Bugis
1. Rakkeang, adalah bagian diatas langit - langit ( eternit ). Dahulu biasanya digunakan untuk menyimpan padi yang baru di panen.
2. Ale Bola, adalah bagian tengah rumah. dimana kita tinggal. Pada ale bola ini, ada titik sentral yang bernama pusat rumah ( posiĆ¢€™ bola ).
3. Awa bola, adalah bagian di bawah rumah, antara lantai rumah dengan tanah.
Rumah ini bisa berdiri tampa mengunakan satu paku pun orang daluhu kala mengantikan Fungsi Paku Besi menjadi Paku Kayu.
Rumah adat suku Bugis Makassar dapat di bedakan berdasarkan status sosial orang yang menempatinya, Rumah Saoraja (Sallasa) berarti rumah besar yang di tempati oleh keturunan raja (kaum bangsawan) dan bola adalah rumah yang di tempati oleh rakyat biasa.
Tipologi kedua rumah ini adalah sama-sama rumah panggung, lantainya mempunyai jarak tertentu dengan tanah, bentuk denahnya sama yaitu empat persegi panjang. Perbedaannya adalah saoraja dalam ukuran yang lebih luas begitu juga dengan tiang penyangganya, atap berbentuk prisma sebagai penutup bubungan yang biasa di sebut timpak laja yang bertingkat-tingkat antara tiga sampai lima sesuai dengan kedudukan penghuninya. Rumah adat suku bugis baik saoraja maupun bola terdiri atas tiga bagian : Awa bola ialah kolong yang terletak pada bagian bawah, yakni antara lantai dengan tanah. Kolong ini biasa pada zaman dulu dipergunakan untuk menyimpan alat pertanian, alat berburu, alat untuk menangkap ikan dan hewan-hewan peliharaan yang di pergunakan dalam pertanian. Alle bola ialah badan rumah yang terdiri dari lantai dan dinding yang terletak antara lantai dan loteng. Pada bagian ini terdapat ruangan-ruangan yang dipergunakan dalam aktivitas sehari-hari seperti menerima tamu, tidur, bermusyawarah, dan berbagai aktifitas lainnya. Badan rumah tediri dari beberapa bagian rumah seperti: · lotang risaliweng, Pada bagian depan badan rumah di sebut yang berfungsi sebagai ruang menerima tamu, ruang tidur tamu, tempat bermusyawarah, tempat menyimpan benih, tempat membaringkan mayat sebelum dibawa ke pemakaman. · Lotang ritenggah atau Ruang tengah, berfungsi sebagai tempat tidur kepala keluarga bersama isteri dan anak-anaknya yang belum dewasa, hubungan social antara sesame anggota keluarga lebih banyak berlangsung disini. · Lontang rilaleng atau ruang belakang, merupakan merupakan tempat tidur anak gadis atau orang tua usia lanjut, dapur juga di tempatkan pada ruangan ini yang dinamakan dapureng atau jonghe. · Rakkeang ialah loteng yang berfungsi sebagai tempat menyimpan hasil pertanian seperti padi, jagung, kacang dan hasil perkebunan lainnya. Sebagaimana halnya unsur-unsur kebudayaan lainnya maka teknologi arsitektur tradisionalpun senantiasa mengalami perubahan dan perkembangan. Hal ini juga mempengaruhi arsitektur tradisional suku bangsa bugis antara lain bola ugi yang dulunya berbentuk rumah panggung sekarang banyak yang di ubah menjadi rumah yang berlantai batu. Agama Islam juga memberi pengaruh kepada letak dari bagian rumah sekarang yang lebih banyak berorientasi ke Kabah yang merupakan qiblat umat Isalam di seluruh dunia. Hal tersebut di karenakan budaya Islam telah membudaya di kalangan masyarakat bugis makassar, symbol-simbol yang dulunya di pakai sebagai pengusir mahluk halus yang biasanya diambil dari dari jenis tumbuh-tumbuhan dan binatang tertentu dig anti dengan tulisan dari ayat-ayat suci Al-Qur’an