#header img { max-width: 99%; max-height:90%; margin:1px 1px;padding:0px;} .post img { vertical-align:bottom; max-width:90%; max-height:90% } #navigation img { vertical-align:bottom; max-width:80%; }
Tampilkan postingan dengan label SENJATA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SENJATA. Tampilkan semua postingan

Kamis, 27 Februari 2014

15 Benda Keramat dari Tana Toraja

15 Benda Keramat dari Tana Toraja



13608357641422885704
Aneka Jenis Jimat,dok:my.opera.com/Adekai24
Tak dipungkiri lagi,Tana Toraja memiliki segudang misteri. Bukan hanya objek wisata,jimat, mitos tetapi juga ada benda-benda keramat DI bumi Lakipadada ini.Penasaran seperti apa benda tersebut,mari kita simak :
1. Bate Manurun yaitu sebuah panji berupa kain batik yang ditengahnya ada gambar burung Garuda dimana pemiliknya akan mendapatkan keberuntungan .Di tempat lain ,ada pula Bate Manurun yang tidak bisa dibuka dari tempatnya tanpa mengadakan persembahan seekor anak ayam Jantan Sella’ (Ayam jantan berbulu merah dan berkaki putih).Apabila dibuka sembarangan akan menimbulkan angin puyuh yang membinasakan.Tidak boleh pula dilangkahi hewan atau manusia .Benda ini digunakan sebagai pelindung desa dengan mengadakan angin puyuh jika ada musuh yang hendak menyerang.
2. Pongollong yaitu sebuah parang yang dimiliki Tongkonan Pong Pippa di Tabang (Sesean) dimana parang ini bisa terhunus sendiri apabila ada bahaya yang mengancam
3. To Sawitto yaitu sejenis parang/pedang milik tongkonan Simbuang tetapi sarungnya ada di Sawitto( Pinrang).Parang ini adalah tanda perjanjian damai antara rakyat Simbuang dengan Sawitto dimana jika ada yang melanggarnya akan terkutuk seumur hidup
4. Kandaure yaitu sejenis perhiasan yang terbuat dari macam-macam manik.Manik-manik tersebut diuntai menurut daya cipta tertentu sehingga menyerupai alat yang menyerupai corong disertai gambar dan ukiran-ukiran.Pinggirnya berumbai panjang dengan aneka ragam manik-manik yang teruntai rapi pada tali.Kandaure biasa dipakai wanita pada pesta keramaian,atau perhiasa pada pesta orang mati.Benda ini dipercayai mendatangkan berkat bagi pemiliknya dan juga bisa mendatangkan malapetaka
5. Balo ‘ Tedong yaitu benda aneh yang ada hubungannya dengan kerbau.Ada yang berasal dari batu.Bentuknya seperti kerbau.Biasanya diupacarai,seperti dalam upacara ma’kambu.Batu direndam di dalam palungan yang penuh air.Kerbau yang meminumnya akan berkembang biak dengan baik
6. Kale’ke yaitu benda yang berbentuk anak kerbau dan ada pula yang seperti gelang-gelang rotan pada hidung kerbau dimana orang yang menyimpannya akan memiliki kerbau yang berkembang biak dengan baik dan berani berlaga.Pemiliknya gampang berkelahi karena sifatnya yang keras kepala
7. Rante bai yaitu benda yang berasal dari babi dimana orang yang memilikinya akan memiliki kekebalan.
8. Pa’puangan yaitu benda yang warnanya hitam dan dilingkari warna putih ,bentuknya seperti batu permata dan jumlahnya tujuh buah.Satu diantaranya sebesar tinju dan selalu bersinar.Bagi yang memilikinya akan membawa keberuntungan. Orang tak boleh minum atau buang air jika ada didepan benda tersebut.Bagi yang melanggar akan mendapat kecelakaan.
9. Kurin dedekan atau gori-gori tangma’ti yaitu benda yang membuat pemiliknya takkan kehabisan persediaan makanan.
10. Ranteballa yaitu benda yang membuat pemiliknya dapat mengalahkan semua musuh-musuhnya.
11. Doke Talluloloknya yaitu tombak bercabang tiga dimana ujung-ujungnya disalut dengan emas dan dapat membawa keberuntungan bagi pemiliknya. Benda ini digunakan dalam Rambu Tuka dan Rambu Solo’
12. Mawa’/maa’ yaitu sejenis kain peninggalan nenek moyang.Ada beberapa jenis mawa’ seperti:
a. Di daerah Sillanan, terdapat mawa’ lotong yaitu kain bewarna hitam yang konon bisa berubah jadi ular hitam dimana orang yang memiliki benda ini akan ditakuti atau disegani
b.Di daerah Botang terdapat mawa yang sewaktu –waktu bisa seperti kain tua yang robek dan kadang pula seperti baru .Orang yang menyimpannya akan terhindar dari segala marabahaya
c. Di daerah Rantebala,ada Mawa’ yang kadang berbentuk ular dan kadang pula seperti kain robek
d. Di daerah Panggala’ , ada Mawa’ yang bisa berubah-ubah dimana perubahan tersebut mengandung arti .Kalau kainnya kelihatan utuh maka keluarga berada dalam keadaan baik namun jika kelihatan robek maka akan ada kedukaan yang melanda keluarga tersebut.
13. Sambu Siluang yaitu sejenis kain sarung tanpa jahitan yang mempertemukan kedua ujungnya.Benda ini dipercayai menjadikan keluarga akan rukun dan damai
14. Tannun Tangmangka yaitu kain tenun yang sangat panjang dan tidak terselesaikan dimana benda ini milik Puang Manaek di Nonongan .Benda ini dipercayai membawa keberuntungan
15. To Bolong yaitu sejenis parang tertua yang dimiliki oleh tongkonan di Pa’tengko yang dipercayai akan membuat kerbau si empunya akan berkembang biak dengan baik
Yah ,inilah benda-benda yang dianggap keramat di Tana Toraja yang berlaku zaman dahulu.Namun sekarang sudah susah untuk dijumpai. Namun dalam kehidupan ini, kita harus lebih percaya kepada Allah sebab Dialah juruselamat dan pelindung bagi Umat-Nya.
Referensi: Roh-Roh dan Kuasa-Kuasa Gaib

Toraja

Destinasi di Indonesia
Beranda » Tana Toraja : Negerinya Orang Mati yang Hidup » Tongkonan: Rumah Adat Toraja yang MengagumkanBayangkan bahwa rumah adat ini dibangun dengan konstruksi yang terbuat dari kayu tanpa menggunakan unsur logam sama sekali seperti paku. Anda akan lebih terkagum-kagum setelah mengetahui filosofi di balik rumah adat ini. Ada kepercayaan, kebanggaan, tradisi kuno, dan peradaban dari setiap detail rumah tongkonan yang dibangun masyarakat Toraja. Jadi tidak bisa sembarangan membangun rumah adat ini.Inilah salah satu bentuk kearifan lokal yang mengagumkan dari sebuah rumah adat Nusantara. Tongkonan adalah rumah khas masyarakat Tana Toraja di Sulawesi Selatan. Hingga saat ini rumah unik tersebut bersama budaya Tana Toraja lainnya menjadi daya tarik wisata dan terus-menerus diminati pelancong.Tongkonan adalah rumah adat dengan ciri rumah panggung dari kayu dimana kolong di bawah rumah biasanya dipakai sebagai kandang kerbau. Atapnya rumah tongkonan dilapisi ijuk hitam dan bentuknya melengkung persis seperti perahu telungkup dengan buritan. Ada juga yang mengatakan bentuknya seperti tanduk kerbau. Sekilas mirip bangunan rumah gadang  di Minangatau Batak.
Semua rumah tongkonan yang berdiri berjejer akan mengarah ke utara. Arah tongkonan yang menghadap ke utara serta ujung atap yang runcing ke atas melambangkan leluhur mereka yang berasal dari utara. Ketika nanti meninggal mereka akan berkumpul bersama arwah leluhurnya di utara.Berdasarkan penelitian arkeologis, orang Toraja berasal dari Yunan, Teluk Tongkin, Cina. Pendatang dari Cina ini kemudian berakulturasi dengan penduduk asli Sulawesi Selatan. Kata tana artinya negeri, sedangkan kata toraja berasal dua kata yaitu tau (orang)dan maraya (orang besar atau bangsawan). Kemudian penggabungan kata-kata tesebut bermakna tempat bermukimnya suku Toraja atau berikutnya dikenal sebagai Tana Toraja.Tongkonan merupakan pusat kehidupan sosial suku Toraja karena ritual adat terkait tongkonan sangatlah penting dalam kehidupan spiritual mereka dengan leluhur. Oleh karena itu, semua anggota keluarga diharuskan ikut serta sebagai lambang hubungan mereka dengan leluhur.Tongkonan berasal dari kata tongkon yang bermakna menduduki atau tempat duduk. Dikatakan sebagai tempat duduk karena dahulu menjadi tempat berkumpulnya bangsawan Toraja yang duduk dalam tongkonan untuk berdiskusi. Rumah adat ini mempunyai fungsi sosial dan budaya yang bertingkat-tingkat di masyarakat. Awalnya merupakan pusat pemerintahan, kekuasaan adat, sekaligus perkembangan kehidupan sosial budaya masyarakat Toraja. Masyarakat Toraja menganggap rumah tongkonan sebagai ibu, sedangkan alang sura (lumbung padi) sebagai bapak. Tongkonan berfungsi untuk rumah tinggal, kegiatan sosial, upacara adat, serta membina kekerabatan. Bagian dalam rumah dibagi tiga bagian, yaitu bagian utara, tengah, dan selatan. Ruangan di bagian utara disebut tangalok yang berfungsi sebagai ruang tamu, tempat anak-anak tidur, serta tempat meletakkan sesaji. Ruangan sebelah selatan disebut sumbung, merupakan ruangan untuk kepala keluarga tetapi juga dianggap sebagai sumber penyakit. Ruangan bagian tengah disebut Sali yang berfungsi sebagai ruang makan, pertemuan keluarga, dapur, serta tempat meletakkan orang mati.Ada nuansa unik dari rumah tongkonan yang luar biasa sekaligus sarat makna. Perhatikan seksama bagaimana tumbuhan hijau merajalela ada di atas atapnya justru memperindah tampilan rumah adat ini.Mayat orang mati masyarakat Toraja tidak langsung dikuburkan tetapi disimpan di rumah tongkonan. Agar mayat tidak berbau dan membusuk maka dibalsem dengan ramuan tradisional yang terbuat dari daun sirih dan getah pisang. Sebelum upacara penguburan, mayat tersebut dianggap sebagai ‘orang sakit‘ dan akan disimpan dalam peti khusus. Peti mati tradisional Toraja disebut erong yang berbentuk kerbau (laki-laki) dan babi (perempuan). Sementara untuk bangsawan berbentuk rumah adat. Sebelum upacara penguburan, mayat juga terlebih dulu disimpan di alang sura (lumbung padi) selama 3 hari. Lumbung padi tersebut tiang-tiangnya dibuat dari batang pohon palem (bangah) yang licin, sehingga tikus tidak dapat naik ke dalam lumbung. Di bagian depan lumbung terdapat berbagai ukiran, antara lain bergambar ayam dan matahari  yang merupakan simbol untuk menyelesaikan perkara.Ukiran khas Toraja bermakna hubungan masyarakat Toraja dengan pencipta-Nya, dengan sesama manusia (lolo tau), ternak (lolo patuon), dan tanaman (lolo tananan). Ukiran tersebut digunakan sebagai dekorasi eksterior maupun interior rumah mereka.
Saat Anda melihat rumah adat ini, ada ciri lain yang menonjol yaitu kepala kerbau menempel di depan rumah dan tanduk-tanduk kerbau pada tiang utama di depan setiap rumah. Jumlah tanduk kepala kerbau tersebut berbaris dari atas ke bawah dan menunjukan tingginya derajat keluarga yang mendiami rumah tersebut. Di sisi kiri rumah yang menghadap ke arah barat dipasang rahang kerbau yang pernah di sembelih. Di sisi kanan yang menghadap ke arah timur dipasang rahang babi.    Ornamen tanduk kerbau di depan tongkonan melambangkan kemampuan ekonomi sang pemilik rumah saat upacara penguburan anggota keluarganya. Setiap upacara adat di Toraja seperti pemakaman akan mengorbankan kerbau dalam jumlah yang banyak. Tanduk kerbau kemudian dipasang pada tongkonan milik keluarga bersangkutan. Semakin banyak tanduk yang terpasang di depan tongkonan maka semakin tinggi pula status sosial keluarga pemilik rumah tongkonan tersebut.
Ornamen rumah tongkonan berupa tanduk kerbau serta empat warna dasar yaitu: hitam, merah, kuning, dan putih yang mewakili kepercayaan asli Toraja (Aluk To Dolo). Tiap warna yang digunakan melambangkan hal-hal yang berbeda. Warna hitammelambangkan kematian dan kegelapan. Kuning adalah simbol anugerah dan kekuasaan ilahi. Merah adalah warna darah yang melambangkan kehidupan manusia. Dan, putih adalah warna daging dan tulang yang artinya suci. Ada beberapa jenis rumah adat togkonan, antara lain  tongkonan layuk (pesio'aluk),  yaitu tempat menyusun aturan-aturan sosial keagamaan. Tongkonan pekaindoran (pekamberan atau kaparengngesan), yaitu berfungsi sebagai tempat pengurus atau pengatur pemerintahan adat. Ada juga batu a'riri yang berfungsi sebagai tongkonan penunjang yang mengatur dan membina persatuan keluarga serta membina warisan.

Tongkonan milik bangsawan Toraja berbeda dengan dari orang umumnya. Yaitu pada bagian dinding, jendela, dan kolom, dihiasi motif ukiran yang halus, detail, dan beragam. Ada ukiran bergambar ayam, babi, dan kerbau, serta diselang-seling sulur mirip batang tanaman. Menurut cerita masyarakat setempat bahwa tongkonan pertama itu dibangun oleh Puang Matua atau sang pencipta di surga.Dulu hanya bangsawan yang berhak membangun tongkonan. Selain itu, rumah adat tongkonan tidak dapat dimiliki secara individu tapi diwariskan secara turun-temurun oleh marga suku Toraja.Rumah tongkonan rata-rata dibangun selama tiga bulan dengan sepuluh pekerja. Kemudian ditambah proses mengecat dan dekorasi satu bulan berikutnya. Setiap bagian tongkonan melambangkan adat dan tradisi masyarakat Toraja.Rumah adat tongkonan akan terus dibangun dan didekorasi ulang oleh masyarakat Toraja. Hal itu bukan karena alasan perbaikan tetapi lebih untuk menjaga gengsi dan pengaruh dari kaum bangsawan. Pembangunan kembali rumah tongkonan akan disertai upacara rumit yang melibatkan seluruh warga dan tidak jauh berbeda dengan upacara pemakaman.Anda dapat menemukan rumah mengagumkan ini di Rantepao, Toraja Utara, tepatnya di Kete Kesu dan di Lemo. Untuk menuju Rantepao maka arahkan tujuan pertama ke Maskassar lalu naiklah bus tujuan Rantepao seperti Litha dan Bintang Timur. Tiketnya seharga Rp80.000,00 hingga Rp100.000,00 per orang.

Badik Pateha


r
Pusaka Badik Pateha Tradisional Khas Makassar


Cara PembayaranTransfer Bank (T/T), Tunai, Cek Bank, Western Union
Pusaka Badik Pateha ini memiliki ukuran yang relatif kecil -+ 10cm panjangnya. didapat dari koleksi seseorang.

Badik merupakan senjata khas yang menjadi identitas dari masyarakat yang berasal dari keturunan Melayu. Badik ini dimiliki oleh sebagian besar masyarakat seperti suku bugis; mayarakat Makassar, penduduk Mandar, dan berbagai masyarakat lainnya yang bermukim di wilayah sulawesi selatan. Badik juga dimiliki oleh sebagian besar masyarakat etnis lainnya yang masih berada di kawasan Asia Tenggara.

Badik mempunyai 3 bagian tubuh, yaitu hulu, bilah, dan sarung. Badik sendiri mempunyai bilah yang berebentuk meruncing dan pipih, namun berbentuk melebar namun tetap lurus layaknya pedang namun ukurannya lebih kecil. Badik ini mempunyai ukuran yang tergolong kecil, yang kira-kira hanya 1, 5 - 2 kali lipat dari ukuran pisau biasa. Badik ini biasanya digunakan untuk bertarung ataupun untuk berduel dengan seseorang.

Badik sebenarnya tidak terlalu tajam, namun badik biasanya diolesi dengan racun mematikan yang dioleskan sesaat sebelum bertarung agar musuhnya dapat tumbang dan kalah dalam waktu yang cukup singkat, dan gar tidak menghabiskan banyak waktu dan tenaga untuk pertarungan yang ada.

Namun, badik ini sendiri, merupakan senjata tradisional yang paling banyak ditemui di kota Makassar. Badik ini sendiri merupakan senjata tradisional yang juga dimiliki oleh beberapa warga lainnya di nusantara yang berada di luar Makassar. Seperti Riau, Jambi, Bengkulu, dan masih banyak lagi. Badik tersebut dimiliki dan mempunyai ciri khas tersendiri yang berbeda-beda namun tetap terlihat memiliki karakter yang sama antara kota yang satu dengan kota yang lainnya.

Badik sendiri biasanya digunakan dalam berbagai upacara keagamaan dan menjadi senjata yang juga disakralkan, seperti layaknya keris. Badik ini dipercaya mempunyai kesaktian khusus, dan memiliki nilai magis tersendiri, karena itulah kemudian badik dikeramatkan oleh sebagian besar penduduk masyarakat dari Makassar, suku bugis, dan daerah sekitarnya yang mengagungkan senjata badik itu sendiri.

Badik sendiri juga merupakan benda pusaka kebudayaan yang menunjukkan identitas dari pemiliknya. Badik sendiri juga merupakan senjata pusaka yang sering dipakai dalam berbagai ritual dan juga sering disucikan oleh pemiliknya. Badik biasanya juga akan diberikan secara turun temurun dalam satu keluarga. Badik harus dirawat dengan baik oleh sang penerima badik tersebut. Dan yang menerima badik pun biasanya harus mempunyai karakter yang baik dan unggul dibandingkan dengan anggota keluarga lainnya.

Badik biasanya mempunyai tuah kewibawaan bagi yang memakainya. Pemakainya akan mempunyai kharisma yang kuat dan akan dihormati oleh banyak orang. Ada juga badik yang mempunyai fungsi khusus untuk kerejekian. Yang membuat pemiliknya selalu beruntung dan banyak rejeki. Biasanya tuah-tuah tersebut hanya dipunyai oleh badik-badik tertentu saja. Khususnya pada badik yang belum dimodifikasi dan berusia tua

jenis-jenis badik,

adapun jenis-jenis badik, diantaranya;

1. Badik Raja (gecong raja, bontoala) 



Gambar 1. Badik Raja (gecong raja, bontoala)

badik yang asalnya dari daerah kajuara kabupaten bone , dalam pembuatan badik ini,, orang2 disekitar kajuara sana masih percaya jika badik raja dibuat oleh makhluk halus, ketika malam, terdengar suara palu bertalu-talu dalam lanraseng gaib sampai paginya masyarakat sana menemukan jadilah sebuah badik raja,, badik ini bilahnya aga” besar ukurannya 20-25 cm, menurut bang ray divo, Ciri-ciri badik raja hampir mirip dengan badik lampobattang, bentuk bilahnya agak membungkuk, dari hulu agak kecil kemudian melebar kemudian meruncing. Pada umumnya mempunyai pamor timpalaja atau mallasoancale di dekat hulunya. Bahan besi dan bajanya berkualitas tinggi serta mengandung meteorit yang menonjol dipermukaan, kalau kecil disebut uleng-puleng kalau besar disebut batu-lappa dan kalau menyebar di seluruh permukaan seperti pasir disebut bunga pejje atau busa-uwae. Badik raja di masa lalu hanya digunakan oleh arung atau dikalangan bangsawan-bangsawan dikerajaan Bone.  

2. Badik Lagecong 



Gambar 2. Badik Lagecong

Badik lagecong,, Badik bugis satu ini dikenal sebagai badik perang, banyak orang mencarinya karna sangat begitu terkenal dengan mosonya (racunnya), banyak orang percaya bahwa semua alat perang akan tunduk pada badik gecong tersebut,, 

ada dua versi , yang pertama ,Gecong di ambil nama dari nama sang pandre (empu) yang bernama la gecong, yang kedua diambil dari bahasa bugis gecong atau geco”, yang bisa diartikan sekali geco” (sentuh) langsung mati,,

sampai saat ini banyak yang percaya kalau gecong yang asli adalah gecong yang terbuat dari daun nipah serta terapung di air dan melawan arus,, wallahu alam,, panjang gecong biasanya sejengkalan orang dewasa, pamor lonjo,, bentuknya lebih pipih,tipis tapi kuat.  

3. Badik Luwu 



Gambar 3. Badik Luwu

Badik luwu,, badik luwu yang berasal dari kabupaten luwu, bentuknya agak sedikit membungkuk, mabbukku tedong (bungkuk kerbau), bilahnya lurus dan meruncing kedepan,, badik bugis kadang diberikan pamor yang sangat indah, hingga kadang menjadi buruan para kolektor ..di bajanya terdapat rakkapeng atau sepuhan pada baja yang konon disepuh dengan bibir dan “maaf” alat kelamin gadis perawan sehingga konon tidak ada orang yang kebal dengan badik luwu ini,  

4. Badik Lompo Battang (badik siperut besar/jantung pisang) 



Gambar 4. Badik Lompo Battang

Badik lompo battang atau sari,, badik ini berasal dari Makassar, bentuknya seperti jantung pisang, ada jg yang bilang seperti orang hamil, makanya orang menyebutnya lompo battang (perut besar), konon katanya jika ada orang terkena badik ini, maka dia tidak akan bertahan dalam waktu 24 jam,

Pusaka Sulsel

TOMBAK BATANG ALARA'











LUWUK TOASIH










GECONG









GECONG











DAENG APA'







LUWUK MATA PAKKATTO









LUWUK SAMBANG KURISI

badik pusaka makassar

Rabu, 26 Februari 2014

Badik Luwu

Badik Luwu Bugis La Makkonta’

Sejak beberapa bulan lalu saya menemukan hobi baru yang sebenarnya sudah lama ingin saya wujudkan. Hobi tersebut adalah menjadi seorang kolektor Badik – Keris khusus Made in Sulawesi. Ketertarikan saya ini dilandasai oleh kecintaan saya terhadap Tanah Asal saya yaitu Sulawesi yang ternyata History-nya sangat berhubungan dengan Benda Pusaka terkhusus pada Badik.
Kata Sulawesi ternyata berasal dari dua suku kata yaitu :
Sula : Pulau
Wesi : Besi
Apabila disatukan maka menjadi Sulawesi (Pulau Besi). Penamaan Sulawesi ini tentunya dilatar belakangi oleh banyaknya kandungan besi yang tedapat pada Pulau sulawesi yang dulunya berpusat di daerah Luwu.
Bahan baku besi tersebut yang banyak mengandung unsur titanium dan meteorit ternyata merupakan besi yang sangat baik untuk pembuatan Pusaka berpamor seperti Keris dan badik. Mungkin bersumber dari kondisi inilah sehingga di sulawesi semua orang terkhusus pada pria memiliki dan kerapkali membawa Badik.
dari kebiasaan tersebut Lahir sebuah ungkapan seperti ini :
“Tania Urane Narekko De’Namappunnai Kawali”
Artinya :
“Bukan Pria Jika Tidak Memiliki badik”
Tak hanya kata Sulawesi saja yang berhubungan denganPusaka Badik. Konon, Kata Celebes yang merupakan sebutan lain dari pulau sulawesi oleh orang Portugis ternyata berhubungan juga dengan keberadaan badik di Tanah Sulawesi.
Menurut sebuah kisah yang tidak jelas sumbernya, penamaan Celebes untuk pulau sulawesi bersumber dari kisah singkat berikut :
“Ketika Kapal Bangsa Portugis bersandar di Pulau sulawesi, salah satu Rombongan dari mereka (Bangsa Portugis) diperintahkan turun dari menemui masyarakat setempat untuk menanyakan nama dari Tempat mereka berada. Ketika orang portugis tersebut mendekati salah seorang warga, sontak warga tersebut memegang badik yang dia bawa sehingga secara spontan pandangan orang Postugis tersebut tertuju pada Badik yang warga Pegang. Lalu dalam bahasa portugis orang Portugis tersebut bertanya “Apakah Nama Kampung ini ?”
Warga yang tidak mengerti maksud pertanyaan tersebut mengira orang portugis ini bertanya “Apa nama benda yang engkau pegang itu ?”
Akhirnya warga tersebut menjawab “Sele Bessi” dimana Sele Bessi ini adalah nama lain dari Besi Pusaka.
Karena jawaban tersebut, orang Portugis ini menarik kesimpulan bahwa Nama kampung ini adalah Selebessi (Celebes).”
Itulah contoh history yang membuktikan bahwa orang-orang Sulawesi dari dulu sangat dekat dengan badik.
Dalam proses berburu benda-benda Pusaka ini banyak sekali pengalaman menarik yang saya temukan, sekaligus banyak persaudaraan yang terjalin dari sesama penggemar Pusaka Badik.
Salah satu pengalaman menarik saya adalah dengan berjodohnya saya dengan sebuah benda pusaka yang kami namai “Makkonta”.
Penamaan tersebut lahir dari beberapa pengalaman teman-teman yang mengaku seperti kesetrum dengan ujung benda pusaka ini.
Dalam bahasa Bugis, Kesetrum itu dibahasakan dengan kata “Konta” jadi “La Makkonta” Bisa diartikan dengan“Yang Menyetrum”
Meski tidak semua orang Mampu merasakan energi tersebut, namun beberapa teman mampu berasakan dan berani bersumpah sebagai pembuktian atas apa yang mereka rasakan.
Singkatnya, kami (saya) selaku pemiliki Benda Pusaka tidak keberatan apabila ada yang ingin membuktikan dan merasakan sendiri energi yang ada dalam Benda Pusaka ini.
Jika anda termasuk peka, maka insya Allah anda akan dapat merasakan.
Benda Pusaka ini saya akui adalah Garapan baru Oleh seorang Panre Dari Luwu bernama Panre Amri, yang menurut rekan-rekan masih memiliki Garis Keturunan dari Empu Baitullah Dan Empu Batara Guru dimana beliau adalah  Empu (Panre) pertama di Sulawesi.
Meski Garapan baru, tapi bahan pamor dibuat dari Pusaka Temuan berwujud Pedang Sinangke Dan Tombak, Pusaka Pedang dan Tombak ini ditemukan tertanam didalam tanah sehingga tidak utuh lagi. Bahan pusaka tua  inilah yang ditempa Ulang menjadi 3 Buah Badik. Dimana keduanya ditempa pada Bulan Ramadhan dengan Do’a dan niat tertentu dari Panrenya.
Pusaka ini memberi bukti pada saya  Bahwa tidak hanya pusaka Garapan Tua yang memiliki kelebihan, tapi meski garapan baru asal terbuat dari Bahan yang Bagus maka Insya Allah tidak kalah dengan Pusaka Sepuh.
Wujud dari Badik Luwu La Makkonta ini akan saya tampilkan pada Gambar Berikut :

Asal Usul Badik adalah Senjata tradisional Melayu Makassar, Bugis dan Mandar di Sulawesi

Asal Usul Badik adalah Senjata tradisional Melayu Makassar, Bugis dan Mandar di Sulawesi Selatan berukuran Pendek yang. Senjata Suami dikenal pula di Daerah Patani, Thailand Selatan, Artikel Baru sebutan badek. Bentuknya serupa Artikel Baru badik Bugis, sehingga diduga badek Patani Suami berasal Dari Bugis. Suami hal didasarkan Tradisi Orang Bugis merantau Secara turun temurun Yang diwariskan, Tradisi mereka Selalu Satu berpindah-Pindah Dari Daerah ke Daerah lain Yang ADA di Kepulauan nusantara, di antaranya Patani di Thailand Selatan. Perpindahan tersebut berimplikasi PADA proses akulturasi sector Artikel Baru Yang ditandai persebaran artefak-artefak, di antaranya badik. Akhirnya badik dikenal di Daerah Juga Artikel Baru sebutan badek Patani Pembongkaran dijelaskan sebelumnya yang.



Senjata Tradisional Orang Bugis Makassar

2. Tension-Tension Badik Yang berasal Dari Makassar, Bugis, atau Patani masing-masing memiliki Bentuk dan sebutan Yang berbeda Yang menunjukkan penyusutan jenis dan badik di Daerah tersebut terkait masih berlangsung. Di Makassar, badik dikenal Artikel Baru badik sari Nama Yang memiliki kale (bilah) pipih yang, batang (Perut) dan cappa tajam Serta Buncit '(Ujung) runcing yang. Badik sari Suami terdiri Dari Name of pangulu (gagang badik), sumpa kale (tubuh badik) dan banoang (sarung badik). Saccharin ITU, badik Bugis disebut kawali, Pembongkaran kawali raja (Bone) dan kawali Rangkong (Luwu). 

Kawali Bone terdiri Dari bessi pipih (bilah) yang, Name of agak runcing melebar Ujung Serta. Sedangkan kawali Luwu terdiri Dari bessi Yang lurus dan berbentuk pipih. Kawali Name of Name of-memiliki: pangulu (ulu), bessi (bilah) dan wanoa (sarung). Badek Patani terbuat Dari Bahan pamor besi, dan baja. Panjang bilahnya ANTARA 20-23 cm, termasuk ulunya Belum. Senjata Suami diberi sarung (warangka) kayu lunak Sederhana Yang lempengan emas atau perak dilapisi, Juga ulunya Artikel Baru begitu. Bahkan ADA pula ulu Senjata Suami Yang dihiasi permata. Penyusutan jenis dan badek Patani Artikel Baru badik Makassar atau Bugis adalah, badek Patani lebih BANYAK kandungan bajanya dan agak pamornya Bahan Kurang. Selain ITU, bilah badek Patani lebih tebal dibandingkan jenis dan badik Yang ADA di Sulawesi. KESAWAN Masyarakat Sulawesi Selatan dan Tenggara Name of dikenal doa jenis dan badik: badik Saroso dan badik pateha. 

Badik Saroso Dibuat Bahan pamor, Serta kayu berukir Yang diberi sarung berlapis perak; & e badik pateha Dibuat Artikel Baru Bentuk Sederhana yang, terkadang regular tidak berpamor dan sarungnya terbuat Dari kulit Biasa atau kayu. PADA umumnya, badik perlengkapan untuk membela Diri KESAWAN mempertahankan harga Diri Keluarga atau seseorang. Suami hal didasarkan PADA sector Artikel Baru sirri 'makna untuk mempertahankan martabat suatu Keluarga. Konsep sirri Suami Sudah menyatu KESAWAN tingkah laku, sistem sosial dan cara berpikir sector Masyarakat Bugis, Makasar dan Mandar di Sulawesi Selatan. Selain ITU, ADA pula badik Yang berfungsi sebagai Benda pusaka, Pembongkaran badik Saroso, Yang memiliki Nilai Sejarah. Juga Ada sebagian Orang Yang meyakini bahwa badik berguna sebagai azimat Yang berpengaruh PADA Nilai Baik dan Buruk