#header img { max-width: 99%; max-height:90%; margin:1px 1px;padding:0px;} .post img { vertical-align:bottom; max-width:90%; max-height:90% } #navigation img { vertical-align:bottom; max-width:80%; }
Tampilkan postingan dengan label Bissu Pangkep. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bissu Pangkep. Tampilkan semua postingan

Kamis, 27 Februari 2014

Mengenal To Boto dalam Kehidupan Bissu

Mengenal To Boto dalam Kehidupan Bissu

1298737777628511958
To Boto saat mendampingi Bissu dalam suatu Seminar Demokrasi Multikulturalisme di Pangkep (foto by : farid).
Mendengar Kata ‘Bissu’, ingatan setiap orang—di Tanah   Bugis Makassar—pasti  pada sosok  malebbi (anggun) pendeta bugis pra islam pada masa kerajaan masih berlangsung.  Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Pangkep, Drs Ahmad, M.Si mengungkapkan bahwaMereka (Bissu) adalah pelestari tradisi, adat budaya, serta kepercayaan lama yang dianut oleh masyarakat Bugis kuno jauh sebelum pengaruh agama islam masuk. Pada masa keemasan kerajaan-kerajaan besar di Sulawesi Selatan, tidak satupun upacara atau sidang yang lengkap tanpa keterlibatan mereka sebab komunitas waria ini (pria yang berpakaian serta bertingkah laku seperti waria) adalah pemelihara benda-benda kebesaran kerajaan dan keagamaan pada masa itu. Mereka juga pelaksana upacara ritual yang beberapa diantaranya hingga saat ini masih dilaksanakan.
Jika banyak orang sudah mengenal dengan baik Bissu dengan seni tari maggirinya yang khas, tidak demikian halnya dengan To Boto, sosok yang dianggap ‘tidak penting’ oleh banyak kalangan, namun cukup menentukan sempurnanya peran yang mesti diembang oleh seorang Bissu. To Boto, dalam pemahaman masyarakat yang bermukim di lingkungan komunitas Bissu adalah pembantu atau asisten Bissu. Tak banyak orang yang memahami fungsi sebenarnya dari To Boto ini, selain sebagai seorang yang membantu menyiapkan segala perlengkapan dan kebutuhan Bissu. Dalam tradisi masa silam, pengertian To Boto yang sebenarnya adalah ‘teman hidup’.
Sesungguhnya tidak banyak yang bisa diungkap dari tradisi bissu dan kehidupan sehari-harinya di masa silam, apalagi menyangkut kehidupan seksual dan rumah tangganya. Sosok dan perilaku mereka relatif tidak terlalu terbuka, sementara masyarakat sekitarnya sendiri tidak terlalu campur tangan atau ambil peduli. Bissu sangat tertutup, terutama yang menyangkut kehidupan seksual mereka, begitu pula menyangkut penampilan dan perilakunya, karena terikat spiritualitasnya. Hal ini barangkali cukup aneh kendengarannya, apakah seorang bissu juga memiliki ‘track record’ dalam “hubungan seksual”, sebagaimana halnya waria – waria genit pada masa sekarang, yang banyak mengumbar sisi seksualitas dan sensualitasnya.
Komunitas Bissu sebenarnya memiliki pantangan untuk melakukan hubungan seks. Jika belakangan ini muncul kecenderungan para bissu mempunyai teman hidup yang disebut “to boto”, tentu ini jadi gunjingan empuk di masyarakat. “To boto” atau ada yang menyebutnyakaik, tentulah pria. Mantan Bissu Eka, pernah mengaku punya To Boto, meski dibantahnya bahwa To Boto adalah kekasih, layaknya hubungan cinta lelaki-perempuan. To Boto-nya diakui hanya sebatas seba gai pembantu dan pendamping dalam menunaikan tugas dan peran kebissuannya. Anehnya, dua pekan lalu, saya kembali menyaksikan kehadiran To Boto mendampingi enam Bissu yang hadir dalam suatu seminar Demokrasi Multikulturalisme atas Undangan khusus pihak penyelenggara Sekolah Demokrasi Pangkep (SDP), Lembaga Advokasi dan Pendidikan Anak Rakyat (LAPAR) Sulsel di Pangkep.
Dalam kesehariannya, seorang To Boto diharuskan datang secara sukarela ke rumah Bissu, membantu melayani segala keperluan dan kebutuhan Bissu, tentunya akan sibuk lagi jika sang Bissu sedang mempersiapkan suatu acara, misalnya terkait Upacara Adat, dan lain sebagainya. Umumnya seorang To Boto juga mempunyai sifat yang lebay, ke-waria-an, dan meski berjanggut, penampilannya tetap semlohai. Sang To Boto ini diperbolehkan melayani Seorang Bissu dalam masa waktu minimal tiga tahun dan selama waktu itu, segala biaya dan keperluan hidupnya ditanggung oleh Sang Bissu. Menurut Mantan Bissu, Eka, Bissu harus melepaskan To Boto jika telah hidup bersama selama tiga tahun. To boto itu kemudian harus dinikahkan dengan orang lain atas tanggungan Bissu, karena Bissu dianggap telah menghalangi rejekinya, karena selama tiga tahun dia tidak bergaul sama perempuan.
Bissu sebenarnya tidak tampil setiap hari, makanya menjadi pertanyaan, peran apa sebenarnya yang dilakukan seorang To Boto sehingga diharuskan “membantu bissu sehari – hari”. Hal ini menjadi tanya tanya, kebutuhan apa yang mesti to-boto-nya harus layani setiap harinya dengan kemestian datang setiap hari selama tiga tahun. Mantan Bissu, Eka menolak untuk berkomentar. To Botonya, yang diketahui bernama Rustam, juga tidak mau menjelaskannya. Dalam khazanah Bugis pra Islam, sebenarnya jika memang seorang Bissu berniat mencari pacar atau teman hidup, sebenarnya hal itu semudah menjentikkan jemari karena diantara ilmu yang mereka kuasai, ada ilmu pemikat seperti cenning rara, semacam ilmu pelet untuk memikat siapa saja, baik lawan maupun sesama jenis. Bahkan bisa dipakai untuk berdagang atau merias pengantin agar terlihat malebbi, cantik dan anggun di mata undangan.
Untuk mengendalikan libido, dalam tradisi Bugis kuno yang juga dianut bissu masa lalu, terdapat ajaran tu-riolo yang disebut “paneddineng parinnyameng”. Artinya “khayalan yang membawa nikmat”, atau kira – kira tindakan yang bisa memuaskan libido tanpa harus berhubungan seks, namun melalui proses spiritual. Walau mitos ini sudah lama sekali, tapi masih ada aliran – aliran tertentu dalam masyarakat Bugis yang mempraktekkannya sekarang ini. Sayang sekali, Bissu masa kini sudah tidak ada yang mempelajarinya. (Makkulau, 2008).

Waria Sakti Itu Disebut Bissu

Waria Sakti Itu Disebut Bissu



13032580011610938291
Puang Matowa Bissu, Saidi, saat maggiri. (foto: ist)
BEBERAPA  waktu lalu, saya diundang bersama Drs Ahmad, Sekretaris Disbudpar Pangkep dalam suatu acara Talk Show tentang Budaya Nusantara di RRI Makassar yang dipandu oleh Mbak Meisya Sahetapy. Acara itu sendiri direlay oleh lima stasiun RRI kota lainnya yang juga menyiarkan Talk Show seni budaya. Untuk RRI Makassar dibahas tentang Komunitas Bissu. Saya sudah banyak menulis tentang Komunitas Bissu di media cetak dan media online, dan kalau melihat judulnya saja tanpa membaca isinya, mungkin sebagian besar pembaca menganggap tulisan tersebut adalah kajian sastra atau boleh jadi saya dianggap salah ketik, Bissu dikira Bisu.
Bagi penyiar RRI, Meisya Sahetapy yang orang Ambon tentu merasakan keanehan hal yang sama ketika mendengar kata ‘Bissu’, sama seperti orang luar Sulsel yang menanyakan, “Ini Bissu atau Bisu sich mas ?”, ujarnya saat membaca judul tulisan saya pada sebuah media lokal terbitan Makassar. Tentu kita pernah mendengar pementasan teater spektakuler La Galigo yang diangkat dari kisah yang tertulis dalam Kitab sastra epik mitik Bugis, La Galigo di luar negeri, seperti Amerika, Italia, Perancis, Belanda, Singapore yang disutradarai Robert Wilson, disitu akan kita dengar pembacaan Sure’ Galigo yang mengiringi musik dan pementasan itu. Yang membacakan Sureq’ Galigo tersebut adalah Puang Matoa Saidi, pemimpin tertinggi komunitas Bissu Dewatae yang berpusat di Segeri - Pangkep.
Sebenarnya Bissu itu apa sich ? Pertanyaan pertama Mbak Meisya kepadaku saat Talk Show. Spontan saya jawab bahwa Bissu itu mirip - mirip dengan Biksu, soal peran. Kalo Biksu adalah pendeta Hindu sedang Bissu adalah Pendeta Bugis pada masa pra Islam. Sebelum Islam datang ke Sulawesi Selatan, masyarakat Bugis Makassar itu sudah mengenal suatu kepercayaan animisme yang disebut Kepercayaan terhadap Dewata SeuwaE. Secara sederhana, dapat dikatakan bahwa Bissu itu ‘pendeta’ masa lampau yang hidup di masa kini.
Tentu kita akan bertanya, “Lho kenapa masih ada sampai sekarang, bukankah Islam sudah ada dan menjadi anutan masyarakat Bugis Makassar ?”. Jawaban atas pertanyaan tentu memerlukan kajian dan penelitian. Sebagian kecil masyarakat masih mempercayakan Bissu sebagai tempat konsultasi dari setiap pelaksanaan upacara adat siklus hidup (kelahiran, naik rumah, turun sawah, pesta panen, pesta adat, kematian) yang dilakukan. Ini persoalan tradisi dan budaya. Bissu saat ini pun hidup dengan label islam, mengaku beragama Islam, meski kepercayaan terhadap Dewata SeuwaE masih juga dipegangnya.
“Apa sich sebenarnya yang menarik dan unik dari Bissu ini ?” Mbak Meisya mencecar dengan pertanyaan sambil menggengam buku saya, “Manusia Bissu”. “Bissu itu waria, Mbak”, jawab saya. Meskipun ada juga Bissu perempuan—mereka yang menjadi Bissu setelah tidak subur lagi (menopause)—namun itu tidak dominan, sudah langka. Bissu umumnya berangkat dari status waria yang mendapatkan semacam ‘panggilan spiritual’ untuk menjalani takdirnya sebagai Bissu. Pemimpin Bissu digelari ‘Puang Matoa’, sedang wakilnya disebut ‘Puang Lolo’. Kalau melihat sepintas Bissu, mungkin kita akan tertipu karena mereka rata - rata berwajah keras dan berjanggut, padahal intinya mereka gemulai.
Yang membedakan Bissu dengan waria pada umumnya dapat kita saksikan saat mereka melakukan seni tari maggiri. Para Bissu itu menusukkan keris ke beberapa anggota anggota tubuhnya seperti tangan, pinggang, perut, atau leher, sambil menari diiringi musik palappasa. Mereka tidak menpan senjata tajam. Mereka adalah waria sakti dari peradaban bugis masa lampau. Pada masa keemasan kerajaan di Tanah Bugis, tidak satupun upacara atau sidang yang lengkap tanpa keterlibatan mereka. Bissu adalah pemelihara benda pusaka kebesaran kerajaan dan keagamaan pada masa itu.
Dr Harold Frazer, seorang Antropolog Amerika saat saya mengantarnya menyaksikan pertunjukan Bissu di Pangkep tahun lalu sempat mengungkapkan kekagumannya. Menurutnya, waria pada umumnya terutama di Barat adalah sosok yang menonjolkan sensualitas dan seksualitas, sangat tidak berbudaya tapi Bissu disini adalah waria yang justru sebaliknya, pemelihara budaya, pelestari tradisi, pakaiannya anggun dan mempesona, tempat bertanya berbagai hal terkait upacara adat, terkemuka dan ditokohkan masyarakat sekitarnya. Demikianlah Bissu, waria sakti dari peradaban Bugis masa lampau. (***).
1303246407996499566Puang Matoa Saidi (dipayungi) bersama bissu lainnya di belakangnya.

Bissu Dewatae in Pangkep

Mei 2011

Demonstrasi Bissu Power, ' maggiri '.
Sebelum mencoba untuk memahami misteri ' Bissu Dewatae ' , seseorang harus memiliki beberapa pemahaman tentang siapa dan apa yang mereka. Lingkup pengaruh mereka berhubungan dengan spiritual tetapi di luar ajaran Islam . Mereka adalah preservers dari ' cara lama ' dipraktekkan oleh orang-orang sebelum kedatangan Islam . Pada hari-hari dari banyak kerajaan , tidak ada istana itu selesai tanpa Bissu kontingen untuk ini dukun transvertite gemilang pada wanita di ban dan make up adalah penjaga dari kedua regalia feodal dan agama .


Puang Matoa Bissu , Saidi . ( foto : ist )
Mereka juga melakukan upacara keagamaan , beberapa di antaranya masih dipraktekkan saat ini . Doa untuk berbagai kekuatan alam seperti hujan , matahari , dan angin masih dipraktekkan oleh orang-orang yang hidupnya membidangi pertanian dan karena itu bergantung pada kekuatan-kekuatan ini untuk kelangsungan hidup dan keberhasilan mereka . Berdasarkan kekuatan batin mereka sangat maju , yang diyakini supernatural , para Bissu adalah penasihat kerajaan yang paling berharga .


Bissu tubuh menjadi kebal dan tidak dapat dipotong atau tertusuk pisau atau benda tajam lainnya . ( foto : ist ) .
The Bissu Dewatae hidup dengan disiplin yang terdefinisi dengan baik yang tidak dapat dipertahankan oleh mereka yang tidak melihat gaya hidup ini sebagai panggilan suci mereka . Untuk itu diperlukan tahun studi dan pelatihan esoteris . Semua yang diperlukan untuk belajar bahasa rahasia Bissu yang mereka gunakan dalam mantera dan ketika berkomunikasi dengan dunia roh dan dengan dewa matahari , hujan , bumi , dan kekuatan alam lainnya . Banyak menjadi media untuk komunikasi dengan dunia roh , dan mengembangkan kekuatan menakjubkan dari precognition . Banyak orang tergantung pada mereka untuk nasihat dalam hal-hal romantis dan masalah lain dari kehidupan sehari-hari .

1306316477231955802
Bissu juga melakukan upacara keagamaan . ( foto : ist )
Semua menjadi mahir self- in- trance diproduksi selama tubuh mereka menjadi kebal dan tidak dapat dipotong atau tertusuk pisau atau benda tajam lainnya . Ini adalah sering demonstrationof kekuasaan mereka di Bissu ritual . Pengunjung ke Pangkep selama masa tanam padi musim semi pada bulan November dapat menyaksikan pada upacara paling spektakuler tahun ini yang berlangsung selama tujuh hari . Upacara pendek lainnya dijadwalkan pikir tahun ini .

13063166901224627613
Buku saya tentang Komunitas Bissu di Pangkep , Published 2007. ( foto by : ist )
Hari Bissu mendukung diri mereka sendiri kecantikan terutama sebagai sangat terampil dan perencana sosial untuk pernikahan , khitanan , dan kinerja pribadi dari misteri Bissu . Di negara lain , pertunjukan oleh transvertites laki-laki memiliki rasa jelas erotis dan tidak dapat dibandingkan dengan Bissu Dewatae dengan kinerja sangat spiritual dan dianggap sakral . Seksualitas dari pemain bukan unggulan dari aspek transvertitism mereka . Ada beberapa komunitas lain Bissu di seluruh tanah Bugis tetapi Bissu Dewatae dari Pangkep yang paling dihormati dan dihormati semua . Pemimpin mereka , Puang Matoa Saidi , yang tinggal di ArajangE Palace di Pangkep , pada dasarnya adalah Paus dari orang-orang Bissu di mana-mana . ( ***

Bissu sebagai Gender Kelima

Menyoal Bissu sebagai Gender Kelima

HL | 14 February 2012 | 06:15 Dibaca: 1173    Komentar: 20    4

1329198827994379272
Pemangku sementara Puang Matoa Bissu, Puang Upe didampingi Bissu Wa' Matang.
BANYAK penulis dan jurnalis memiliki kepedulian terhadap komunitas “waria sakti” Bissu dari Tanah Bugis. Tulisan yang lahir tentang Bissu begitu beragam, ada yang menulis penguasaan Bissu terhadap epos La Galigo dan keterlibatannya dalam Teater Kontemporer La Galigo, kecerdasannya berbahasa bugis kuno dan membaca lontaraq, seni tari “maggiri”nya yang membuat seorang Bissu tidak mempan senjata tajam, kemampuannya meramal dan mengobati, kontroversi mengenai gendernya, perilaku sosial dan ketaatannya dalam menjalankan adat (Pangngaderreng).
Sebagai mantan jurnalis yang memiliki kedekatan dengan komunitas Bissu yang memusatkan aktifitasnya di Segeri Pangkep, pun saya banyak menulis tentang Bissu bahkan beberapa catatan saya tentang Bissu di media sosial blog kompasiana seringkali menjadi rujukan (baca : dicopas) oleh blogger untuk konten budaya di blognya.  Bissu bagi sebagian kecil orang merupakan komunitas eksklusif, hanya dapat dipahami dengan cara tertentu dan dalam waktu yang lama, karena itu sangat menyedihkan tentunya tulisan – tulisan copas tentang Bissu yang lahir hanya dari review tulisan orang lain tanpa mengenal dan melihat aktifitas langsung dari komunitas Bissu itu sendiri.
13291990831192952402
Puang Upe
Sebagai komunitas unik dan langka, Bissu tidak cukup dipahami dengan berhadapan langsung dengan Bissu itu sendiri. Ketika diwawancarai, seorang Bissu cenderung untuk menutup informasi terkait libido dan perilaku seksualnya. Malahan beberapa diantaranya menganggap bahwa hal tersebut adalah hal yang tabu untuk dibicarakan, apalagi kepada seseorang yang baru dikenalnya. Itulah sebabnya tesis tentang gender kelima, “Bissu”, sukar untuk dipahami dan diterima dengan logika. Meski begitu, hampir semua pemerhati budaya, jurnalis dan peneliti mengamini pendapat bahwa dalam masyarakat Bugis dikenal lima gender, yaitu : Urane (laki – laki), makkunrai (perempuan), calabai (laki – laki yang keperempuanan, waria), calalai (perempuan yang kelaki – lakian), dan Bissu (tak bergender atau tidak jelas gendernya).
1329199207140506571
Puang Upe
Salah seorang peneliti yang mempopulerkan Bissu sebagai “gender kelima” adalah Sharyn Graham, peneliti dari University of Western Australia.  Bissu yang umumnya berangkat dari kondisi waria (calabai) ternyata tak bisa sepenuhnya lepas dari kondisi kewariaannya, begitu pula pergaulannya. Itulah sebabnya dalam beberapa tulisan soal gender kelima ini, saya menganggap ada “disconnect” soal tesis tentang gender kelima ini. Informasi tentang latar belakang sosial, sikap dan perilaku Bissu dapat diketahui dari kawan – kawan sepergaulannya dari komunitas waria (calabai). Bissu tidak hanya bergaul dengan sesamanya Bissu, tetapi diluar tradisi kebissuannya malahan lebih banyak bergaul dengan waria.
Intinya, Bissu tidak “sesuci” seperti yang selama ini banyak ditulis peneliti. Informasi tentang pergulatan psikologis dan perilaku seksualitas menjadi tertutup karena umumnya peneliti hanya fokus pada Bissu itu sendiri, kesetiaannya berbudaya sebagaimana konsep “atturiolong” (tata cara leluhur), seni tari maggiri-nya, kemampuannya berbahasa bugis kuno dan membaca lontaraq, pusaka bissu, dan lain sebagainya. Meski ketahanan masing – masing Bissu berbeda – beda dalam menghadapi godaan perilaku seks menyimpang, namun paling tidak tesis bahwa Bissu sebagai “manusia suci” yang terhindarkan dari perilaku seks menyimpang harus dimentahkan karena hal tersebut tidak berlaku umum dan permanen.
13291993491147217440
Puang Matoa Bissu Puang Upe' dihadapan para peneliti.
Bagaimanapun, Bissu adalah tetap manusia biasa. Secara kodrati, manusia “ditakdirkan” dilahirkan hanya dalam dua gender, laki – laki (bugis : urane) atau perempuan (bugis : makkunrai). Apakah ia nantinya menjadi calabai (sebutan bugis bagi waria, laki – laki yang keperempuanan) atau calalai (sebutan bugis bagi perempuan yang kelaki-lakian) itu lebih disebabkan karena pengaruh faktor lingkungan yang membentuknya. Ini tentunya memerlukan pembahasan tersendiri, namun yang jelas tidak ada seorangpun anak manusia yang terlahir sebagai calabai dan calalai.
13291994661261184002
Bissu Wa' Matang dan Puang Upe'.
Kondisi Bissu bukanlah suatu kondisi yang permanen, ia merupakan pilihan hidup bagi orang yang merasa “panggilan hidupnya” menjadi Bissu. Kebissuannya bisa terkotori ketika banyak hal yang tidak sepantasnya ia lakukan kemudian ia perbuat dengan sadar. Pada kondisi seperti itulah, Bissu seharusnya secara sadar harus mengundurkan diri sebagai Bissu karena telah menodai tradisi kebissuan yang seharusnya dijaganya, namun banyak hal saya dapati kenyataan seseorang menjadi Bissu ketika ia dalam kondisi kejiwaan dan spiritualitas Bissu menyatu dalam dirinya. Pada saat dalam kondisi demikian, Bissu bukanlah waria biasa, tetapi “waria sakti” yang lahir dari peradaban Bugis kuno. Pada saat tidak demikian, ia hanya waria biasa yang bisa tergoda dan digoda sebagaimana waria pada umumnya. (*).

Konseptor Dewi Nelayan dan Gerbang Wisata Pangkep

Ahmad Djamaan : Konseptor Dewi Nelayan dan Gerbang Wisata Pangkep

REP | 05 February 2012 | 08:16 Dibaca: 389    Komentar: 4    1

1328382127783879705
Drs Ahmad, M.Si (Sekretaris Disbudpar Pangkep). (foto : ist)

Berbicara masalah pariwisata di kabupaten Pangkep harus melibatkan ayah dua anak ini. Sebelum mantan Camat Liukang Kalmas (2003-2005) ini ada di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, maka sukar untuk mengharapkan Pariwisata Pangkep muncul dibicarakan di forum regional dan internasional. Mendengarnya berbicara masalah Pariwisata bagi orang yang pertama mengenalnya, mungkin ia akan sedikit menganggap mantan guru Bahasa Jerman ini sedikit sombong, tapi begitulah gaya bahasa Drs Ahmad,MSi, Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Pangkep saat ini dalam mengenalkan obyek dan kebijakan Pariwisata Pangkep.



13283822111696069174
Drs Ahmad,M.Si mengenalkan

“Bahasa pariwisata itu tinggi, tajam, menukik, luas dan harus mendalam, membumi sekaligus melangit. Kenapa demikian ? Ya, karena bahasa pariwisata adalah bahasa promosi, menjual kecantikan alam dan keunikan budaya sama orang asing”, ujar mantan Pemandu Wisata Bahasa Jerman Tingkat Madya (Germanspeaking Toursguide) ini kepada penulis. Di masa pemerintahan Bupati Pangkep H Syafrudin Nur (alm), itulah debut pertamanya memasuki dunia pariwisata Pangkep sebagai Kasubdin Pemasaran & Penyuluhan Wisata (2005-2008) dan menggagas beberapa Dewi (Desa Wisata) Nelayan sebagai pintu masuk (gateway) mengenalkan obyek – obyek wisata bahari andalan di Pangkep dan Dewi Tompobulu di wilayah pegunungan sebagai obyek wisata alam dan religi.
13283822991577701091
Drs Ahmad,MSi aktif mengenalkan Pariwisata Pangkep dalam forum regional dan Internasional. (foto : ist).
Berbekal berbagai Even Pariwisata yang pernah diikutinya : Zhejian Expo, Hangzhou, China (Juli 2006), Tourism Indonesia Mart & Expo (TIME), Clarion Hotel Makassar (September 2006), PATA Travel Mart, Nusa Dua Bali (September 2007), Kemilau Sulawesi (November 2007), ASITA Table Top, Sahid Hotel Makassar (Mei 2008), Yogya Indonesia Act (Mei 2008), Kemilau Sulawesi, Gorontalo (Juli 2008), EXPO Rakernas ASITA, Pantai Gapura Hotel Makassar (Agustus 2008), TIME di CCC Makassar (Oktober 2008), MATTA Travel Mart, Sajuana Hotel and Resort Kualalumpur Malaysia (Nopember 2008), Lovely December di Rantepao Tana Toraja Utara (Desember  2008), Deep and Extrem Indonesia 2009, Jakarta Convention Center (JCC) Maret 2009,  Deep and ExtremeIndonesia 2011,   JCC Maret  2011, Makassar Direct Sale 2011, Thamrin City Mall Jakarta April 2011, mantan Ketua III Celebes Ecotourism Forum (CEF) Sulsel (2006-2010) ini kini mengenalkan konsep “Gerbang (Gerakan Pengembangan) Wisata Pangkep.
13283823901989732482
Drs Ahmad,MSi dalam suatu forum pariwisata di Bali. (foto : ist).

Menurutnya, dengan Gerbang Wisata Pangkep maka Sektor Pariwisata diharapkan mampu berperan menjadi penggerak sektor unggulan yang merupakan sektor inti visi Pemkab yakni Pertanian, Perkebunan, serta Perikanan dan Kelautan. Gerbang Wisata yang dimaksudkannya antara lain Gerbang Wisata Bahari “Pulau Cambang – cambang” yang mengambil branding “Expedition Under Water Wonder in 114 islands”(Sensasi Keunikan Bawah Laut 114 Pulau) dengan Pulau Cangke, Badi, Pajenekang, Pala, Saranti dan Kapoposang sebagai Pendukung, Gerbang Wisata Alam Karst dengan branding “The Jewel of Ecotourism Destination” (Permata Destinasi Ekowisata) yang berpusat di Tompobulu, Gerbang Wisata Kuliner, “The Real Taste of Bugis/Makassar” (Aslinya Selera Bugis Makassar) yang dipusatkan di Palampang/Sungai Pangkajene, Gerbang Wisata Budaya dengan event tahunan seperti Ritual Mappalili (Bissu) di Segeri, Ritual Mappalili di Labakkang, Ritual Songka Bala di Pulau Pajenekang dan Festival Kuliner Sop Saudara, Gerbang Wisata Agro “Pangkep Boledong” dengan branding “The Best Commodity in Indonesia” (Komoditi terbaik di Indonesia) serta Gerbang Wisata Sungai “Mangroove” dengan brandingnya,“the different way to rilex” (Jalan lain meretas kenikmatan).
1328382519536081492
Drs Ahmad,MSi dalam suatu forum promosi wisata di China. (foto : ist).
Gerbang Wisata Pangkep tersebut tidaklah dicetuskan tanpa perhitungan kelengkapan sarana dan prasarana. “Semuanya akan dibenahi dan dilengkapi, apalagi perhatian dan kepedulian Bupati H Syamsuddin A Hamid, SE terhadap Pariwisata Pangkep semakin meningkat. Ini membuktikan bahwa Pemkab Pangkep sangat serius dalam mendukung Program Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI serta Program Pemerintah Propinsi Sulsel, yaitu Visit South Sulawesi 2012 dan Visit Makassar and Beyond 2011-2014”, ujar Ketua III Dewan Kesenian dan Pelestarian Budaya (DKPB) Pangkep yang cakap berbahasa Inggris dan Jerman ini. “Insya Allah kita siap menyukseskan pula kalender event tahunan berbasis bahari, “Spermonde Islands Hopping” menuju Visit Pangkep 2015. (*)
Tulisan terkait :

Eksotisme, Narasi Sejarah, dan Wisata Sungai di Pangkajene

Membincang Nasib Bissu dan Arajangnya

Membincang Nasib Bissu dan Arajangnya

REP | 03 December 2011 | 22:50 Dibaca: 315    Komentar: 2    2

Saya sudah lama mengenalnya dan di setiap perjumpaan dengannya, saya selalu terkesan dengan keramahannya. Sangat familiar dan rendah hati. Jabat erat tangannya tulus dan bersahabat. Hari Jum’at kemarin (2/12), saya bertemu dengannya di Kantor Bupati Pangkep. Saat pandangan kami bertemu, ia tersenyum dan berjalan ke arah saya naik tangga. Saya mempercepat langkah menuruni tangga dan kami bersamaan saling menjabat tangan. Setelah bercipika cipiki, ia menanyakan kabar, “Bagaimana kabarnya dinda ?”. “Baik, Puang”, jawab saya. “Saya sudah nonton videonya. Komentarta tentang Bissu, bagus”, ujarnya. “Iye, terima kasih Puang”, balas saya. “Tapi itu, kenapa Puang Upe’ (Pemangku sementara Puang Matoa Bissu, red) berkomentar bahwa pemerintah tidak ada perhatian”, ungkapnya. Saya hanya menanggapinya dengan senyum sambil berjalan berdua menuruni tangga.
Pembicaraan singkat kami terputus karena kesibukannya, “Saya mau ke Bappeda, dinda. Kita mau kemana ?” tanyanya. “Saya mau ke Terminal, Puang, ambil langganan Koran”, jawab saya. Kami pun jalan bertiga, bersama staf yang mengiringinya di koridor ruangan Bagian Keuangan Setdakab Kantor Bupati setempat dan berpisah di depan kantor BKDD. “Saya duluan, Puang”, pamit saya. “Iye”, jawabnya singkat seraya meneruskan jalan kakinya menuju Kantor Bappeda yang berada di lantai 2, diatas Kantor BKDD.
Orang yang saya ceritakan ini adalah Drs Rahman Assegaf, MI.Kom, orang nomor dua di Kabupaten Pangkep. Posisinya sekarang sebagai Wakil Bupati (Wabup), tak menghilangkan ciri khasnya, yaitu warung kopi dan keramahannya yang menghangatkan. Beliau setidaknya menjadi ikon birokrat low profile dengan keramahan yang mengesankan. Masyarakat Pangkep mengenal beliau sebagai orang yang rendah hati dan sangat bersahabat. Senyumnya tak pernah lepas menyapa siapa saja. Kepadanya saya berharap bakal ada perubahan yang lebih baik terhadap masa depan Bissu dan nasib arajang (pusaka) yang dimiliki komunitas “waria sakti” dari peradaban Bugis kuno ini, apalagi beliau pernah menjabat sebagai Camat Segeri, tempat dimana komunitas Bissu bermukim.
* * *
Sepeninggal Puang Matoa Bissu Saidi, perubahan yang nampak memprihatinkan dari komunitas Bissu bukan hanya menyangkut menurunnya intensitas kegiatannya, tetapi juga semakin berkurangnya pusaka yang ada di Bola Arajang (Rumah Pusaka) Bissue di Segeri. Hal ini terlihat saat penyelenggaraan Upacara Adat Mappalili (Turun Sawah) beberapa waktu lalu di Segeri. Upacara tahunan yang biasanya berlangsung sangat meriah ini, tahun ini tidak semeriah tahun – tahun sebelumnya. Pengurus Lembaga Adat Segeri, Andi Herman kepada penulis mengungkapkan bahwa salah satu penyebabnya adalah memprihatinkannya kondisi arajang Bissu.
Pusaka (Bugis : Arajang, Makassar : Kalompoang) sangat penting artinya bagi Bissu. Kelengkapan arajang dianggap sebagai salah satu syarat sempurnanya upacara adat yang dilaksanakan dan saat ini beberapa arajang Bissu itu dinyatakan hilang atau tidak berada di Bola Arajange’ di Segeri. Pemangku sementara Puang Matoa (pemimpin tertinggi) komunitas Bissu, Puang Upe’, yang sangat menyadari pentingnya Arajang itu nampak kurang bersemangat ketika diperhadapkan pada permintaan masyarakat menggelar ritual tertentu, termasuk Maggiri’, seni tari tradisional khas Bissu.

Aji Susan tentang Bissu

Aji Susan tentang Bissu

REP | 13 July 2011 | 16:26 Dibaca: 225    Komentar: 6    1

13105315181138098473
Puang Matoa Bissu Saidi (alm) semasa hidupnya dalam suatu acara adat. (foto : mfaridwm)
Karena rambut sudah panjang, saya menyempatkan singgah cukur di salon langganan dekat rumah, namanya Salon Susan, kemarin (12/7). Salon ini milik Aji Susan, ketua komunitas waria di Minasate’ne. Tak seperti kebanyakan waria pada umumnya, Susan (nama sebenarnya adalah Sansu namun karena menyadari kelainan pada dirinya yang lebay akhirnya dia balik saja namaya menjadi Susan) adalah waria yang ‘taat beragama’, paling tidak itu ditunjukkan dengan predikat Aji (Baca : Haji) di depan namanya dan setiap saat saya ketemu jum’atan di masjid.
Sewaktu Puang Matoa Bissu Saidi berpulang, Aji Susan juga turut hadir bersama anggotanya sesama waria, bahkan boleh dibilang kehadiran puluhan waria itu cukup mewarnai ratusan pelayat saat Pemimpin Bissu itu akan dikebumikan, 28 Juni lalu.Ternyata Aji Susan mengetahui banyak rahasia para anggota Bissu, termasuk ‘perselingkuhan’ mantan Bissu Eka dengan seorang To Boto-nya bernama Rustam dan perselisihannya dengan Puang Matoa Bissu Saidi (alm). Kehadiran To Boto dalam kehidupan Bissu sudah menjadi rahasia umum bagi masyarakat sekitar tempat Bissu bermukim.
Aji Susan kesehariannya bekerja di Salonnya, dia juga melakoni profesi ‘traditional event organizer’ seperti merias pengantin dan menata lamming (pelaminan) pengantin Bugis Makassar, suatu profesi yang juga lazim dilakoni anggota komunitas Bissu saat tidak menghadiri undangan upacara adat. Namun Aji Susan tak ingin masuk dalam wilayah Bissu, karena menurutnya, “Anjo Bissua appa’ruai” (Makassar : Itu Bissu menduakan Tuhan). Tidak mungkinlah Bissu itu mendapatkan kekuatan kebal saat maggiri’ (seni tari ala Bissu) kalau tidak ada campur tangan syetan atau jin dalam pementasannya. “Mallaka nakke gang, gappaka nikaluppai sambajanga”, ujarnya. (Makassar : saya takut gang, nanti kita melupakan sembahyang).
Demikianlah Aji Susan, dari pernyataannya kita tentu dapat menilai bahwa meskipun kondisi fisiknya lebih kepada waria (calabai) namun ia boleh jadi adalah waria yang juga bukan sembarang waria kebanyakan, ia tentu seorang waria yang taat beragama di saat banyak waria lebih mengedepankan seksualitas dan sensualitas sesamanya. (*)

Puang Upe, Puang Lolo Komunitas Bissu

Puang Upe, Puang Lolo Komunitas Bissu Berpulang

REP | 01 September 2012 | 13:25 Dibaca: 508    Komentar: 3    2

1346461432461227464
Puang Lolo Bissu, Puang Upe. (foto : dok.pribadi/disbudpar pangkep)
Hanya berselisih setahun dua bulan sejak berpulangnya Puang Matoa Bissu, Saidi bin Rudding kini kembali Komunitas Bissu Dewatae’ yang berpusat di Segeri Pangkep kembali kehilangan satu sosok penting. Semalam, Jum’at sekitar pukul 24.00 WITA, Puang Upe yang selama ini dikenal sebagai Puang Lolo Bissu dan pemangku sementara Puang Matoa Bissu sepeninggal Saidi berpulang ke rahmatullah. Kabar duka ini saya terima pagi ini, sekitar pukul 06.30 WITA dari Andi Herman, salah seorang pengurus Lembaga Adat Segeri via short message service (sms). “Assw. Innalillahi wa Inna Ilaihi Rhojiun. Telah meninggal dunia Puang Upe / Puang Lolo, Plt. Puang Matoa Bissu Segeri, Jum’at Pukul 24.00, akan dikebumikan hari ini, Sabtu Jam 12.30 Ba’da Duhur. Wss. By. Andi Herman”, demikian pesan pendek tersebut.
Kabar berpulangnya salah satu tokoh penting komunitas “waria sakti” dari peradaban Bugis kuna tersebut langsung mengundang simpati dan ungkapan duka cita dari berbagai kalangan, khususnya para pemerhati budaya, tokoh adat, pejabat daerah, pegiat seni dan sastra serta dari kalangan akademisi, pelajar dan mahasiswa.  Saya pribadi mengenang sosok pewaris tradisi dan pemelihara setia arajang Segeri ini terakhir pertemuan kala mengantar beberapa jurnalis TV3 Malaysia yang bermaksud mewawancarainya setelah sebelumnya melakukan wawancara terakhir dengan Puang Matoa Bissu yang kala itu terbaring lemah di RSUD Pangkep.
13464619631459002163
Puang Upe saat maggiri dalam suatu Upacara Adat. (foto : dok.pribadi/disbudpar pangkep).
Praktis sepeninggal Puang Matoa Bissu Saidi dan Puang Lolo Puang Upe’, Bissu senior yang tersisa hanya Bissu Wa’ Matang, Bissu Ahmad, Bissu Mase, dan Bissu Juleha. Yang lainnya masih tergolong Bissu muda seperti Bissu Muharram. Salah satu kelebihan Puang Upe yang dikenang dan dikagumi, baik oleh Bissu maupun oleh masyarakat pendukungnya adalah keberaniannya menusuk matanya dengan keris saat berlangsungnya seni tari maggiri’ sebagai salah satu rangkaian dalam Upacara Adat yang sering dilaksanakan Komunitas Bissu ini.
1346462102722937384
Beberapa ungkapan duka cita atas berpulangnya Puang Upe
Salah seorang pemerhati Bissu, Sastrawan dan seniman Asdar Muis via telepon kepada penulis mengabarkan keperihatinannya yang mendalam terhadap Bissu sebagai komunitas budaya yang meringkih dan terancam punah. “Kita tidak bisa membiarkan para bissu ini kehilangan arah ?”, ujarnya di ujung telepon. Ya. Bissu memang tinggal sedikit dan saya anggap kekhawatiran itu tidaklah berlebihan. Bissu adalah bukti hidup penutur sastra kuna, Kitab epik mitik La Galigo, kitab sastra terpanjang di dunia serta pewaris nilai dan tata cara hidup berdasar kultur Bugis, “Pangngaderreng”. Begitu pula ritual budaya dan upacara adat yang harus dilaksanakan dalam kehidupan sosial masyarakat Bugis Makassar.
13464624601582945696
Puang lolo Bissu (alm) didampingi Bissu Wa Matang. (foto : dok.pribadi/disbudpar Pangkep).
Saat – saat terakhir hidupnya, Puang Upe memang diketahui telah lama menderita berbagai penyakit disamping karena umurnya yang tak lagi muda. “Puang Upe’ lama menderita asma, hampir setiap hari mengeluarkan batuk yang keras disertai demam yang meninggi. Jauh sebelum Puang Matoa Bissu berpulang, Puang Upe pernah menderita stroke ringan”, jelas Andi Herman saat menghubungi penulis. Rencananya Puang Lolo Bissu, Puang Upe akan dikebumikan usai shalat duhur hari ini, Sabtu (1/9) di pekuburan islam Bocco – Boccoe, tidak jauh dari Bola Arajang Bissue’ di Segeri.
Selamat Jalan Puang Upe, Kami semua mengenangmu sebagai pelestari budaya, pengawal tradisi bugis kuna dan orang yang baik. (*)

Dange’ dan Lanteangoro’, Pelengkap Eksistensi Komunitas Bissu

Dange’ dan Lanteangoro’, Pelengkap Eksistensi Komunitas Bissu

OPINI | 06 September 2012 | 20:46 Dibaca: 299    Komentar: 1    2
Siapa kini yang tak mengenal Kecamatan Segeri Kabupaten Pangkep ? Jika anda mengenal komunitas “waria sakti” yang disebut Bissu, niscaya anda akan mengenal pula daerah ini. Ya, Kecamatan Segeri adalah pusat aktivitas Komunitas Bissu Dewatae’ di Pangkep. Jaraknya sekitar 70 km di utara Kota Makassar atau sekitar 30 km dari Pangkajene, ibukota Kabupaten Pangkep. Tak banyak orang yang tahu bahwa di Segeri, selain Bissu sebagai obyek wisata budaya, juga dikenal Dange’ sebagai wisata kuliner dan Lanteangoro’ sebagai obyek wisata alam. Dange’ dan Lantengoro’ adalah dua sisi berbeda yang telah lama menjadi pelengkap eksistensi komunitas Bissu.
13469210612070663860
Dange atau Pulo Bolong. (foto : dok.pribadi/mfaridwm)
Di sepanjang jalan poros Segeri – Mandalle yang dilewati transportasi darat dari dan ke Makassar – Toraja berjejer ratusan penjual jajanan khas dange (Turis mancanegara menyebutnya dange(r) atau danger). Dange’ adalah penganan tradisional yang terbuat dari campuran beras ketan hitam, gula merah dan kelapa. Kuliner khas ini yang biasanya hanya dapat dinikmati paska panen padi kini dapat dinikmati dan dipesan sepanjang hari dan malam di Segeri dan akan terasa lebih nikmat jika disajikan hangat berteman kopi sambil menyaksikan pemandangan Bulu Lanteangoro’ (Gunung tertinggi di Segeri, berada di timur Jalan Poros Segeri-Mandalle).
Dalam setiap penyelenggaraan Mappalili (Upacara Adat Turun Sawah) dan Mappadendang (Upacara Adat Paska Panen Padi) selalu dihadirkan kuliner tradisional Dange’. Kalau disajikan pada Upacara Adat Mappalili maka Pulo Bolong (tepung beras ketan hitam) yang dipakai membuat Dange adalah hasil panen tahun sebelumnya, sedangkan Dange’ yang disajikan pada Ritual Mappadendang adalah Pulo Bolong hasil panen padi yang baru saja dilaksanakan. Bissu adalah Tokoh utama dari kedua penyelenggaraan ritual adat Mappalili dan Mappadendang tersebut. Mengapa harus ada Dange di setiap acara ritual adat tersebut, tentunya Bissu-lah yang lebih mengetahuinya.
13469208441590012856

Bissu Pangkep

Selamat Jalan Bissu Wa’Nure

REP | 11 April 2013 | 11:28 Dibaca: 412    Komentar: 0    3

1365653986960000668
Bissu WaNure sedang maggiri dalam suatu upacara adat semasa hidupnya. (foto : dok.penulis/humas_Pangkep)
Satu persatu Bissu di Pangkep meninggal dunia dan terancam “punah”.  Setelah Puang Matoa Bissu Saidi berpulang dalam Tahun 2011 (28 Juni 2011), setahun setelahnya Puang Lolo Bissu yang dijabat Puang Upe juga berpulang pada tanggal 1 September 2012.  Kedua Bissu senior yang disegani ini meninggalkan komunitasnya yang terseok-seok mempertahankan talenta kepercayaan dan tradisi Bugis masa silam.  Atas dasar kesepakatan Dewan Hadat Segeri, diangkatlah Juleha, salah seorang Bissu yang tergolong muda untuk memangku jabatan sebagai pemimpin komunitas ‘waria sakti’ ini. Hanya berselang tujuh bulan, salah seorang Bissu senior, Wa’Nure juga telah menyusul kedua rekannya.
Kabar kematian Bissu Wa’Nure, penulis dengar langsung dari Andi Herman, Rabu (10/4), salah seorang pengurus lembaga Adat Segeri, tempat dimana Komunitas Bissu memusatkan kegiatannya. Anehnya, Andi Herman sendiri mengaku baru mengetahuinya setelah Bissu Wa’Nure, yang sekira berumur 65 tahun, telah meninggal dua pekan lalu di Kalimantan. “Beliau berpulang di Kalimantan, sekitar dua pekan lalu. Memang selama ini bissu tak memiliki kegiatan dan tak ada permintaan penyelenggaraan upacara adat, Wa’Nure lebih banyak berada di Kalimantan berkumpul bersama keluarganya yang ada disana,” ujar Andi Herman yang juga Staf Protokoler Humas Pemkab Pangkep ini.
Ketika kabar kematian Bissu Wa’Nure ini penulis konfirmasikan kepada Andi Makin, Ketua Pengurus Lembaga Adat Segeri mengakui bahwa memang Bissu Wa’Nure telah meninggal dunia. “Yang membawa kabar kematian Bissu Wa’Nure itu adalah H. Dede, yang pada Hari Rabu kemarin (10/4) baru pulang dari Balikpapan Kalimantan Timur. Dari H. Dede-lah, kita semua warga Segeri mengetahui bahwa Bissu Wa’Nure telah meninggal dunia di Balikpapan Kalimantan Timur.  Dengan kabar berpulangnya Wa’Nure ini, kita semua merasa kehilangan, hal ini jugalah yang disampaikan Puang Matoa Bissu Juleha dan Puang Lolo Bissu, Nani kepada saya. Yang jelas, satu lagi Bissu meninggal dunia dan kita semua kehilangan dan turut berduka”, ungkapnya.
13656541181385900744
Bissu WaNure sedang maggiri dalam suatu upacara adat semasa hidupnya. (foto : dok.penulis/humas_pangkep)
Bagi sebagian besar orang, Bissu memang tak lagi penting keberadaannya, apalagi telah banyak orang meninggalkan kebiasaan lama, seperti massanro (meminta bantuan pengobatan ke Bissu),  assuro cini’ (meminta ramalan kepada Bissu mengenai masa depan seseorang), atau maggiri (meminta Bissu melakukan seni tari maggiri dalam suatu upacara adat), dan lain sebagainya. Semakin sedikitnya Bissu, kini hanya berjumlah 12 orang dan yang aktif hanya 7 orang, secara tidak langsung juga merupakan ancaman bagi pemeliharaan benda-benda pusaka (arajang) Kekaraengan Segeri yang selama ini dibawah pemeliharaan Bissu.
Seingat penulis, terakhir kali Bissu tampil dalam suatu acara formal Pemerintah Kabupaten Pangkep adalah pada saat diselenggarakannya Festival Sop Saudara dalam Bulan Desember 2012. Hal ini diamini oleh Drs Ahmad,M.Si, Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Pangkep.  Namun ketika disampaikan kabar kematian Bissu Wa’Nure, ia mengaku tidak tahu. Begitupula dengan Asri Taliu, Staf Disbudpar Bidang Kebudayaan, yang mengaku kaget atas informasi kematian Bissu Wa’Nure dari penulis. “Saya tidak tahu pak, kapan berpulangnya?, kenapa tidak ada informasi yang masuk ke kantor?” Bissu memang terlupakan dan seakan sengaja dilupakan ditengah banyaknya agenda pembangunan fisik obyek  wisata.  Bissu yang sejatinya adalah pelaku wisata budaya dan telah lama “dieksploitasi” sebagai ikon wisata budaya, namun nasibnya setiap tahun tetap saja memprihatinkan.
1365654344944446412
Dari kiri ke kanan : Penulis, Bissu WaNure dan Andi Herman. (foto : dok.penulis)
Tak banyak tulisan yang merekam jejak kebissuan Wa’Nure. Andi Herman, pengurus Lembaga Adat Segeri hanya mengetahuinya sebagai salah seorang Bissu senior. Beberapa kawan yang pegiat budaya dan literasi di Pangkep mengingat sosok Wa’Nure sebagai sosok yang berbadan besar dan mukanya mirip Gajah Mada, Patih Kerajaan Majapahit di Jawa. “Siapa yang meninggal kak, Wa’ Nure itu Bissu yang mirip Gajah Mada,” ujar Ahyar Manzis, Pemimpun Umum Majalah Sastra “Lentera”  mencoba mengingat Sosok Wa’Nure kala bersama penulis melayat ke rumah duka Puang Upe, tujuh bulan lalu di Segeri.
Tak banyak kenangan yang bisa dituliskan tentang Wa’Nure, selain memang karena Bissu yang satu ini tergolong tertutup bicara soal kebissuannya. Satu lagi Bissu telah pergi dan kepergiannya tetap menyimpan misteri tentang pribadi kebissuannya. Selamat Jalan Wa’ Nure ……. (*)